1 Mar 2019

Menikmati Wajah Baru Jam Gadang



dok. pribadi

Pasca kebakaran yang meluluhlantakkan pasar atas akhir 2017 lalu membuat wajah di jantung kota bukittinggi berubah drastis. Pasar yang merupakan pusat perekonomian di Kota Bukittinggi ini tiba-tiba harus lumpuh untuk sementara waktu.  Banyak para pengunjung yang kehilangan arah menentukan destinasi berbelanja.  Para pedagang yang menjadi korban pun terpaksa harus kecewa kehilangan tempat untuk menjual dagangan mereka. Tidak sedikit yang kemudian menggelar lapak dimana-mana demi rezeki yang harus tetap mereka jemput untuk keluarga. Keluhan dan aspirasi mereka terdengar dimana-mana, berharap kabar baik akan nasib kedepannya.

Perlahan tapi pasti pemerintah setempat cukup sigap menangani agar rekonstruksi segera dilakukan. Kabarnya bangunan yang akan dibuat akan menerapkan prinsip bangunan gedung hijau yang hemat energi sehingga mengurangi emisi karbon. Konsep ini diyakini memiliki sirkulasi udara dan cahaya yang baik, sekaligus menekan risiko kebakaran lagi. Selain itu akan dilakukan juga pergeseran tapak sejauh 10 meter ke belakang untuk lebih memperluas areal pedestrian Jam Gadang. Seiring dengan pembangunan kembali pasar atas, revitalisasi pedestrian Jam Gadang sebenarnya juga dilakukan pertengahan 2018 lalu. Para pengunjung yang datang ke Bukittinggi waktu itu terpaksa harus gigit jari lagi karena selain tidak bisa belanja-belanja di pasar atas juga tidak bisa berfoto dengan clock tower saudaranya Big Ben yang ada di London Inggris ini.

Makanya beberapa tahun belakangan ini Bukittinggi jadi sedikit kurang bergairah. Apalagi ketika Jam Gadang ditutup masyarakat jadi kehilangan tempat untuk menghabiskan weekend bersama keluarga sambil menikmati langit malam ditengah kota. Atau sekedar berjalan-jalan ditaman sambil menikmati kerupuk mie kuah jualan ibu-ibu ditepi trotoar. Uda-uda fotografer jalanan yang selalu setia menawarkan foto dengan pose memegang ujung gonjong jam gadang, terpaksa harus istirahat untuk sementara waktu. Belum lagi dengan pertunjukan kesenian tradisional yang menghias pelataran Jam Gadang setiap malam minggu, mulai dari randai, saluang, silek dan kesenian lainnya harus rela berhenti sampai kemudian Jam Gadang bisa dibuka lagi dengan wajah baru. Ah,,,saya juga rinduu.

Alhamdulillah, tidak perlu menunggu lama 16 Februari lalu akhirnya Jam Gadang secara resmi dibuka lagi untuk umum. Perhelatan besar pun diadakan untuk menyambut kembali icon kota Bukittinggi ini. Saya sendiri karena tidak tinggal dikota hanya bisa menyaksikan live lewat sosmed yang mulai bertebaran video serta foto-foto kemeriahan acaranya. Masya Allah, ternyata banyak sekali yang berubah. Taman kini dilengkapi dengan lampu-lampu hias yang cantik. Pelatarannya pun lebih luas, dan yang paling menarik adalah air mancur menari yang membuat Jam Gadang kini semakin menarik untuk dikunjungi.

LEBIH LUAS

Sebagai warga Bukittinggi coret, atau lebih tepatnya Bukittinggi agak kesono dikit, saya tentunya ingin juga menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana berjalan-jalan di Taman Jam Gadang setelah direnovasi. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah luasss banget. Kalau saya bawa anak-anak mungkin mereka akan bebas berlarian kesana kemari. 
 
dok.pribadi


dok. pribadi

Walau ada beberapa pohon yang ditebang, ada sejumlah taman yang dibangun. Bunga-bunganya yang masih kecil-kecil dan belum begitu tumbuh tetap saja tidak mengurangi kecatikan dan keasriannya. Hanya saja ulah pengunjung yang kadang sengaja melewati area taman membuat bunga-bunga tersebut menjadi terganggu yang akhirnya malah meregang nyawa.
 
dok. pribadi

Disekitar pendakian menuju Jam Gadang jadi favorit pengujung disiang hari karena lebih teduh dan rimbun dengan pohon-pohon besar. Sembari di belai oleh angin mata kita juga dimanjakan oleh panorama yang berlatarkan Gunung Merapi yang tinggi menjulang.
dok pribadi
 
RAMAH DISABILITAS

Kawan pedestrian ini kini juga dilengkapi dengan jalur untuk penyandang disabilitas khususnya yang memakai kursi roda. Sejatinya karena Jam Gadang milik kita bersama sudah seharusnya teman-teman disabilitas juga bisa menikmati area ini dengan lebih leluasa. Tangga-tangga menuju jam gadang kini bukan lagi jadi penghalang untuk melihat jam gadang dari dekat bagi mereka.

LAMPU TAMAN

Setiap pengunjung yang ingin menikmati Jam Gadang kini tidak usah lagi khawatir mau duduk dimana. Dulu kalau setiap ke jam gadang saya sering tidak kebagian tempat duduk dikursi-kursi yang sudah disediakan. Akhirnya banyak pengunjung yang duduk-duduk di tangga atau dimana saja yang menurut mereka strategis untuk bisa melepas penat sejenak setelah keliling-keliling pasar atas.

dok. pribadi
Setiap tempat duduk juga dipayungi oleh lampu-lampu taman yang cantik. Hanya saja lumayan panas juga kalau mesti nongkrong disini siang hari. Beda kalau malam hari, suasananya lebih syahdu dan romantis. Apalagi ditemani alunan saluang bapak-bapak yang dulunya sering duduk menggelar tikar disana.

AIR MANCUR

Air mancur menari yang katanya pertama di Sumbar ini membuat Jam Gadang kini jadi sangat-sangat berbeda. Ini juga yang jadi daya tarik sendiri bagi para pengunjung yang datang pada malam hari. Karena hidupnya pada jam-jam tertentu banyak para pengunjung yang rela menunggu dengan sabar disekitar air mancur. Tidak terkecuali bagi saya yang memang ndeso ini. 
dok. pribadi

dok. pribadi
 
Ketika selesai sholat magrib kami sekeluarga waktu itu langsung ke pelataran jam gadang untuk menyaksikan air mancur menari. Tapi sayangnya tidak hidup, disekitaran kolam pun gelap tidak ada penerangan sama sekali. Ketika selesai azan isya, barulah air mancur itu langsung perform diiringi lagu “indang”. Lagu itu membuat rasa ke-Minang-an di diri saya membuncah hehe, seiring membuncahnya jipratan air mancur yang berliuk-liuk didepan mata. Keren.

Disamping ada air mancur menari di sisi lain area pedestrian ini juga ada air mancur bertingkat yang dilengkapi lampu warna warni. Makannya kalau malam hari Jam Gadang memang lebih rame pengunjungnya, karena banyak sekali keindahan yang bisa dinikmati.

Jam gadang bagi kami bukan hanya sekedar tempat selfi atau sekedar melepas penat diri. Ketika waktu berlalu, zaman berganti ia tetap berdiri menjulang tinggi. Sembari menatap merapi, Singgalang dan Sago sama-sama menjadi saksi. Semoga saja kita bisa menjaga perubahan yang telah dibuat untuk mempercantik Jam Gadang, dan semoga Pasar Atas bisa kembali ramai seperti dulu lagi. 

ke Bukittinggi yuk!


10 komentar:

  1. pengeeen bangeet liaat jam gadang secara langsung mbaaak, selama ini cuma liat dr foto-foto ajaa hehehe apalagi dengan wajah baru yg skrng, bagusss. makasih sharingnyaa mbak ~~

    BalasHapus
  2. aku ingin sekali mengunjungi kota ini
    banyak tokoh bangsa dari sini
    pengen banget jejak sejarah di sana
    semoga perekonomiannya bisa pulih kembali ya mbak
    salam

    BalasHapus
  3. Makin mupeng untuk visit ranah Minang aku setelah baca tulisan ini

    BalasHapus
  4. Waw.. Kalau malam ada air mancurnya sekarang.. Baru tahu..
    Syukurlah kalau jam gadangnya semakin keren.. Ikon Bukittinggi memang g ada duanya...

    Semoga bisa main ke sana...

    BalasHapus
  5. jadi cantik ya sekarang?
    saya berkali-kali ke sumatera barat tapi belum pernah mampir ke bukittinggi :(

    BalasHapus
  6. Pengen banget ke sumatera barat dan medan khususnya.

    BalasHapus
  7. Wah saya belum pernah dan pengen banget mengunjungi jam gadang. Semoga ada kesempatan. Amiin

    BalasHapus
  8. kangeeennyaaa ama bukittinggi :). trakhir ksana ama temen2 kantor. rasa ga puaaas sih kliling nya apalagi cm sabtu minggu thok :(. pgn balik lg pastiii :). Jam gadang makin cantik setelah di pugar :)

    BalasHapus
  9. Selamat dibukanya kembali Jam Gadang dengan wajah barunya. Bikin pengen jalan jalan kesana

    BalasHapus
  10. Saya pindah ke sini bulan Maret, kirain udah dari dulu cantik gini jam gadangnya

    BalasHapus