16 Mar 2019

Yang Terjadi Setelah Lama Hiatus

pixabay.com

Sejak awal tahun ini saya mulai bertekad kembali untuk aktif lagi menulis di blog. Yah kembali bertekad karena ini bukan pertama kalinya saya mengaktifkan blog setelah dibiarkan sekian lama berdebu. Ada banyak hal yang membuat saya ingin kembali menulis, salah satunya ingin punya rekam jejak yang mungkin akan bisa saya baca lagi suatu hari nanti. Disamping itu dengan ngeblog saya serasa punya wadah untuk berekspresi. Saya serasa punya hiburan ditengah kesibukan rutinitas harian yang kadang cukup melelahkan. Ibaratnya me time nya saya, ya itu nulis di blog.

Namun ternyata setelah lama hiatus susah juga menjaga semangat menulis yang kadang-kadang hilang-hilang timbul. Ada saja halangan yang menggoda saya untuk kembali tidak mengacuhkan blog ini. Keinginan memposting tulisan pun jadi maju mundur syantik. Beberapa tulisan akhirnya malah banyak terlantar didalam draft.
  • Minder
Ini semacam penyakit lama yang susah sembuhnya. Merasa kurang percaya diri melihat teman-teman yang dulu sama ngeblog udah melesat jauh. Sedangkan saya masih stuck disana. Kemampuan menulis pun masih gitu-gitu aja. Berangkat dari blog yang dulu isinya cuma curhatan aja, sekarang mau ada peningkatan dikit ternyata susah juga. Saya merasa jauh tertinggal dibelakang. Walau pada akhirnya saya selalu bisa menemukan hal untuk menyemangati diri, tetap saja kadang perasaan-perasaan seperti itu datang menggoyahkan iman.
 
  • Ide
Soal ide saya juga sering kehabisan bahan untuk menulis. Rutinitas saya yang monoton, rumah kantor rumah kantor melulu kadang membuat saya berfikir keras apa hal yang menarik yang bisa dijadikan bahan tulisan. Pergi liburan jarang apalagi travelling, hadeww jauuuuh. Weekend palingan ngurus rumah sama anak-anak. Iya saya tau kok, sebenarnya apa saja bisa jadi ide tulisan. Tergantung kreatifitas kita aja. Yah namanya juga udah lama nggak nulis, jadi pikirannya agak kaku gitu. Nah ketika ada ide, ternyata saya cuma mampu menuliskan beberapa paragraph saja. Sepertinya kelamaan hiatus bukan saja membuat kreatifitas menurun tapi juga bisa membuat saya jadi miskin kata-kata.
  • Waktu
Setelah sudah ada ide dan ada bayangan tulisan yang mau dituliskan, eee saya malah tidak punya waktu. Kesibukan dikantor, dirumah, ngurusin anak ternyata tidak menyisakan waktu untuk saya sekedar menuliskan sesuatu. Rencananya kalau anak-anak udah tidur, mau bikin satu tulisan. Tapi kenyataanya seiring anak-anak tidur saya pun juga udah ngorok duluan. Jadinya untuk menulis saya nunggu takdir aja, karena saya yakin semua akan indah pada waktunya.

Beruntung ketika semua rintangan itu mencoba mematahkan semangat, saya mengenal komunitas 1minggu1cerita yang sedikit banyak cukup membantu saya untuk tetap konsisten menulis. Apapun itu, yang penting update. Tidak ada patokan harus begini harus begitu. Saya hanya harus bisa menelurkan satu tulisan perminggu. Semua blogger dari yang udah master sampai yang newbie ada disana. Enaknya semua dipandang sama. Kasta jadi berbeda kalau udah sering bolos aja. Dengan merutinkan menulis 1minggu1cerita paling tidak perlahan-lahan saya bisa menemukan ritme yang pas untuk menghidupkan blog saya.

Sejauh ini mengkhususkan waktu untuk serius menjadi blogger mungkin saya belum bisa. Saya hanya baru sebatas menulis di blog. Ini pun saya tulis sewaktu istirahat jam kerja, sambil dilirik si Bos sambil manggut-manggut betapa rajinnya saya pas istirahat masih kerja..hihi. Tetapi dengan segala keterbatasan itu saya mencoba berbagai cara untuk tetap menulis dimana saja, kapan bisa dan apa saja

  • Menulis dimana saja
Saya sengaja menginstal aplikasi document di smartphone agar bisa langsung menuliskan ide yang tiba-tiba datang dikepala. Beruntung aplikasi ini bisa digunakan offline maupun online. Sebelum tidur, di angkot, atau dimana saja pas ada ide saya bisa langsung menuliskannya di smartphone. Jadi ketika ada waktu senggang saya tinggal nambah-nambah dan edit tulisan mentah yang sudah ada dengan laptop.

  • Menulis kapan bisa
Saya tidak membebankan diri dengan harus menulis diwaktu-waktu tertentu. Kadang karena terlalu lama hiatus ngeliat teman-teman udah pada keren, pengen juga cepat-cepat punya blog bagus seperti mereka. Dengan demikan tentunya saya harus sering-sering update tulisan, kalau bisa tiap hari. Waduh, slow down baby. Saya harus bisa mengukur bayang-bayang sendiri. Kalau bisanya 1minggu1cerita ya nggak apa-apa, kapan bisa saja. Lebih baik dari pada nge gas diawal, habis itu males lagi. Saya jadi ingat hadis nabi yang mengatakan bahwasanya Allah suka sama amalan yang dilakukan sedikit tapi berkelanjutan. Nah 1minggu1cerita pas banget nih (nyambung nggak sih?)

  • Menulis apa saja
Seperti judul blog saya, melihat, berfikir, dan kemudian tuliskan. Kemonotonan hidup bukan berarti nggak ada bahan buat tulisan. Kita bisa menuliskan apa saja yang kita lihat. Bahkan dari satu objek yang kita lihat dengan kemampuan berfikir yang telah diberikan oleh tuhan kita bisa menjadikannya satu tulisan bahkan mungkin satu buku. Dan paragraph ini saya persembahkan spesial buat diri saya sendiri yang ngakunya sering susah nyari ide hihihi

Saya juga harus kesampingkan dulu berbagai teori teknis untuk mengoptimalkan blog yang ujung-ujungnya  membuat saya jadi malas menulis. Peraturan-peraturan SEO dan segala macamnya mungkin akan saya pelajari nanti-nanti saja itupun kalau sempat dan lagi mood hehe.
  • Mengikuti Komunitas
Mengikuti komunitas sangat membantu saya yang mencoba kembali bangkit dari persembunyian. Beruntung sekali akhirnya saya menemukan komunitas yang membantu saya untuk konsisten menulis. Setelah saya mencoba menulis dimana saja, kapan bisa, dan apa saja, komunitas menjadi pengikatnya agar tetap bisa konsisten dan tetap semangat. Bergabung dengan komunitas 1minggu1cerita mengajarkan saya untuk disiplin dengan peraturan yang sudah saya sepakati sendiri. Tidak itu saja saya juga lebih mudah untuk blogwalking dengan daftar blog  teman sesama komunitas. Setelah lama hiatus untuk memulai kembali menulis tentunya kita harus banyak membaca dan banyak berkunjung ke blog teman. Selain mencari inspirasi dan ide menulis kita juga bisa menjalin pertemanan baru.

Setelah lama tidak ngeblog ada banyak hal yang harus dibiasakan kembali. Selain itu juga harus diselaraskan dengan rutinitas yang mungkin tidak sama seperti dulu lagi. Semoga bisa menemukan ritme yang tepat dan ngeblog jadi makin menyenangkan kembali.








Bukittinggi, 16 Maret 2019
dikala melarikan diri tumpukan kerjaan

1 Mar 2019

Menikmati Wajah Baru Jam Gadang



dok. pribadi

Pasca kebakaran yang meluluhlantakkan pasar atas akhir 2017 lalu membuat wajah di jantung kota bukittinggi berubah drastis. Pasar yang merupakan pusat perekonomian di Kota Bukittinggi ini tiba-tiba harus lumpuh untuk sementara waktu.  Banyak para pengunjung yang kehilangan arah menentukan destinasi berbelanja.  Para pedagang yang menjadi korban pun terpaksa harus kecewa kehilangan tempat untuk menjual dagangan mereka. Tidak sedikit yang kemudian menggelar lapak dimana-mana demi rezeki yang harus tetap mereka jemput untuk keluarga. Keluhan dan aspirasi mereka terdengar dimana-mana, berharap kabar baik akan nasib kedepannya.

Perlahan tapi pasti pemerintah setempat cukup sigap menangani agar rekonstruksi segera dilakukan. Kabarnya bangunan yang akan dibuat akan menerapkan prinsip bangunan gedung hijau yang hemat energi sehingga mengurangi emisi karbon. Konsep ini diyakini memiliki sirkulasi udara dan cahaya yang baik, sekaligus menekan risiko kebakaran lagi. Selain itu akan dilakukan juga pergeseran tapak sejauh 10 meter ke belakang untuk lebih memperluas areal pedestrian Jam Gadang. Seiring dengan pembangunan kembali pasar atas, revitalisasi pedestrian Jam Gadang sebenarnya juga dilakukan pertengahan 2018 lalu. Para pengunjung yang datang ke Bukittinggi waktu itu terpaksa harus gigit jari lagi karena selain tidak bisa belanja-belanja di pasar atas juga tidak bisa berfoto dengan clock tower saudaranya Big Ben yang ada di London Inggris ini.

Makanya beberapa tahun belakangan ini Bukittinggi jadi sedikit kurang bergairah. Apalagi ketika Jam Gadang ditutup masyarakat jadi kehilangan tempat untuk menghabiskan weekend bersama keluarga sambil menikmati langit malam ditengah kota. Atau sekedar berjalan-jalan ditaman sambil menikmati kerupuk mie kuah jualan ibu-ibu ditepi trotoar. Uda-uda fotografer jalanan yang selalu setia menawarkan foto dengan pose memegang ujung gonjong jam gadang, terpaksa harus istirahat untuk sementara waktu. Belum lagi dengan pertunjukan kesenian tradisional yang menghias pelataran Jam Gadang setiap malam minggu, mulai dari randai, saluang, silek dan kesenian lainnya harus rela berhenti sampai kemudian Jam Gadang bisa dibuka lagi dengan wajah baru. Ah,,,saya juga rinduu.

Alhamdulillah, tidak perlu menunggu lama 16 Februari lalu akhirnya Jam Gadang secara resmi dibuka lagi untuk umum. Perhelatan besar pun diadakan untuk menyambut kembali icon kota Bukittinggi ini. Saya sendiri karena tidak tinggal dikota hanya bisa menyaksikan live lewat sosmed yang mulai bertebaran video serta foto-foto kemeriahan acaranya. Masya Allah, ternyata banyak sekali yang berubah. Taman kini dilengkapi dengan lampu-lampu hias yang cantik. Pelatarannya pun lebih luas, dan yang paling menarik adalah air mancur menari yang membuat Jam Gadang kini semakin menarik untuk dikunjungi.

LEBIH LUAS

Sebagai warga Bukittinggi coret, atau lebih tepatnya Bukittinggi agak kesono dikit, saya tentunya ingin juga menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana berjalan-jalan di Taman Jam Gadang setelah direnovasi. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah luasss banget. Kalau saya bawa anak-anak mungkin mereka akan bebas berlarian kesana kemari. 
 
dok.pribadi


dok. pribadi

Walau ada beberapa pohon yang ditebang, ada sejumlah taman yang dibangun. Bunga-bunganya yang masih kecil-kecil dan belum begitu tumbuh tetap saja tidak mengurangi kecatikan dan keasriannya. Hanya saja ulah pengunjung yang kadang sengaja melewati area taman membuat bunga-bunga tersebut menjadi terganggu yang akhirnya malah meregang nyawa.
 
dok. pribadi

Disekitar pendakian menuju Jam Gadang jadi favorit pengujung disiang hari karena lebih teduh dan rimbun dengan pohon-pohon besar. Sembari di belai oleh angin mata kita juga dimanjakan oleh panorama yang berlatarkan Gunung Merapi yang tinggi menjulang.
dok pribadi
 
RAMAH DISABILITAS

Kawan pedestrian ini kini juga dilengkapi dengan jalur untuk penyandang disabilitas khususnya yang memakai kursi roda. Sejatinya karena Jam Gadang milik kita bersama sudah seharusnya teman-teman disabilitas juga bisa menikmati area ini dengan lebih leluasa. Tangga-tangga menuju jam gadang kini bukan lagi jadi penghalang untuk melihat jam gadang dari dekat bagi mereka.

LAMPU TAMAN

Setiap pengunjung yang ingin menikmati Jam Gadang kini tidak usah lagi khawatir mau duduk dimana. Dulu kalau setiap ke jam gadang saya sering tidak kebagian tempat duduk dikursi-kursi yang sudah disediakan. Akhirnya banyak pengunjung yang duduk-duduk di tangga atau dimana saja yang menurut mereka strategis untuk bisa melepas penat sejenak setelah keliling-keliling pasar atas.

dok. pribadi
Setiap tempat duduk juga dipayungi oleh lampu-lampu taman yang cantik. Hanya saja lumayan panas juga kalau mesti nongkrong disini siang hari. Beda kalau malam hari, suasananya lebih syahdu dan romantis. Apalagi ditemani alunan saluang bapak-bapak yang dulunya sering duduk menggelar tikar disana.

AIR MANCUR

Air mancur menari yang katanya pertama di Sumbar ini membuat Jam Gadang kini jadi sangat-sangat berbeda. Ini juga yang jadi daya tarik sendiri bagi para pengunjung yang datang pada malam hari. Karena hidupnya pada jam-jam tertentu banyak para pengunjung yang rela menunggu dengan sabar disekitar air mancur. Tidak terkecuali bagi saya yang memang ndeso ini. 
dok. pribadi

dok. pribadi
 
Ketika selesai sholat magrib kami sekeluarga waktu itu langsung ke pelataran jam gadang untuk menyaksikan air mancur menari. Tapi sayangnya tidak hidup, disekitaran kolam pun gelap tidak ada penerangan sama sekali. Ketika selesai azan isya, barulah air mancur itu langsung perform diiringi lagu “indang”. Lagu itu membuat rasa ke-Minang-an di diri saya membuncah hehe, seiring membuncahnya jipratan air mancur yang berliuk-liuk didepan mata. Keren.

Disamping ada air mancur menari di sisi lain area pedestrian ini juga ada air mancur bertingkat yang dilengkapi lampu warna warni. Makannya kalau malam hari Jam Gadang memang lebih rame pengunjungnya, karena banyak sekali keindahan yang bisa dinikmati.

Jam gadang bagi kami bukan hanya sekedar tempat selfi atau sekedar melepas penat diri. Ketika waktu berlalu, zaman berganti ia tetap berdiri menjulang tinggi. Sembari menatap merapi, Singgalang dan Sago sama-sama menjadi saksi. Semoga saja kita bisa menjaga perubahan yang telah dibuat untuk mempercantik Jam Gadang, dan semoga Pasar Atas bisa kembali ramai seperti dulu lagi. 

ke Bukittinggi yuk!