21 Feb 2019

Saya Bekerja dan Saya Harus Bahagia



Menyeimbangkan antara karir dan rumah tangga bukanlah hal yang mudah bagi sebagian orang. Ada saja permasalahan yang mengakibatkan salah satu sisi terabaikan. Bukan..bukan untuk menjudge profesi seorang ibu yang memilih bekerja. Anggap segala keributan itu sudah kita khatamkan disosmed. Karena pada dasarnya seorang ibu tetaplah IBU yang selalu berusaha memberikan yang terbaik buat anak-anaknya, apapun profesinya.

Saya sendiri sampai saat ini belum menemukan ritme yang pas agar keduanya bisa berjalan dengan cukup baik. Entah saya yang tidak berbakat dalam manajemen waktu atau memang waktu yang tidak mau bersahabat dengan saya. Karena memang 24 jam seperti nya kurang untuk mengurus keduanya. Apalagi sebagai pegawai pengabdi pada mesin fingerprint negara, saya harus bisa mengatur sedemikian rupa agar berbagai drama dipagi hari tidak mengancam tunjangan kinerja. Sayang banget kan harus kehilangan 20ribuan, lumayan buat beli kinderjoy untuk anak-anak.

Berbagai percobaan dengan segala strategi sebenarnya sudah beberapa kali saya coba. Seperti memulai bangun jam 4 lalu masak mpasi sikecil, masak untuk keluarga, mandiin anak-anak, mondar-mandir tau-tau udah jam 7. Akhirnya banyak hal yang kadang harus di skip, seperti nggak sempat sarapan atau juga nggak mandi ehm (cuma beberapa kali kok). Atau saya juga pernah mencoba mengerjakan semuanya di malam hari dengan segala to do list untuk menyiapkan segala keperluan dipagi hari. Lumayan sih, cuma saya harus menunggu anak-anak tidur dulu baru bisa bekerja. Nasib baik kalau mereka tidurnya cepat. Kalau jam 10 atau jam 11 rasanya stok tenaga juga udah mulai menipis. Pengennya udah di tempat tidur sambil mencerahkan wajah dengan serum layar hp dan kemudian tidur.

Hal yang cukup menjadi polemik memang soal memasak. Sering kali saya harus pasrah sama rumah makan, abang-abang pedagang kaki lima dan juga telur ceplok untuk solusi makan malam kami. Bukan soal tidak pandai ataupun malas. Bahkan pedagang ikan yang sering mampir didepan kantor sudah hafal kalau setiap senin dan kamis saya pasti beli ikannya. Dengan harapan bisa menyiapkan makan malam yang sehat untuk anak-anak. Tapi terkadang kenyataanya ikan-ikan itu lebih senang nongkrong lama di freezer dibandingkan berkorban untuk kami masak. hiks

Bak superhero jadul saya harus sering berganti-ganti kostum dalam waktu singkat dengan sekali teriakan “BERUBAHHHH”. Tanpa ba bi bu ketika disambut oleh anak-anak sampai dirumah, saya harus langsung bisa menjadi ibu yang baik buat mereka. Tidak ada cerita duduk-duduk, nyantai dulu atau leyeh-leyeh dulu. Kalau bisa sembari menanyakan kegiatan mereka seharian tangan-tangan saya harus cekatan memasukan baju-baju kotor ke mesin cuci.

Stress? Kadang sih. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari University of Manchester dan University of Essex menyatakan bahwa ibu yang bekerja seharian dan memiliki dua anak memang memiliki tingkat stres kronis 40% lebih tinggi pada wanita yang bekerja penuh waktu dengan tanpa anak-anak. Sedangkan yang memiliki satu anak hanya 18% lebih tinggi. Stress kronik ini bisa menyebabkan beberapa gangguan fisik, seperti mudah marah, cemas, depresi, sakit kepala, dan susah tidur.

Tapi dengan segala rutinitas yang bejibun itu apa iya kita harus pasrah membiarkan jiwa ini dirasuki yang namanya "Stress"? Sensitif dan Emosi yang tidak stabil, ujung-ujungnya malah berimbas sama anak-anak. Kasihan sekali mereka yang harus kehilangan waktu dengan ibunya, pas bertemu pun harus menerima kejutekan ibunya. Lebih kasihan lagi ibunya, udah kerja dikantor seharian plus kerja dirumah habis itu stress pula dengan keadaan. Nope! tarik nafas dalam-dalam, semua akan baik-baik saja (menghibur diri)

Sederhanakan Standar sesuai dengan Keadaan 

Walaupun sebagai seorang perempuan yang punya jurus multitasking saya tidak mungkin jadi wonderwoman ataupun superwoman. Saya harus berdamai dengan situasi agar tetap waras dan bahagia. Idealisme tentang pengasuhan dan rumah tangga mesti sedikit saya kesampingkan demi kesehatan jiwa dan pikiran. Karena anak-anak tentunya lebih memilih kehadiran saya disamping mereka dari pada segala hal yang saya persiapkan untuk mereka. Saya harus menekan sedikit harapan-harapan yang memang sulit karena keadaan. Nggak sempat masak, tidak apa-apa kan masih ada yang jualan makanan. Nggak sempat nyuci, nggak apa-apa masih ada loundry atau ditumpuk dulu juga nggak apa-apa lebih hemat listrik. Rumah berantakan, nggak apa-apa tanda orang dirumah masih sehat-sehat dan aktif semua. Segala pemakluman itu sangat membantu saya agar segala kelelahan itu tidak sampai mempengaruhi emosi saya menghadapi anak-anak.

Menjadi ibu yang sempurnya tentunya tidak mungkin, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Yang terpenting adalah berusaha walaupun akhirnya mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Seperti ketika hanya sempat membuatkan telur ceplok buat anak saya, saya berdoa semoga walau hanya dengan telur ia bisa tumbuh sehat, sholeh dan jadi anak yang membanggakan. Hal kecil memang, tapi setidaknya dengan waktu yang sudah saya usahakan dan kemudian hanya bisa membuatkan telur ceplok, setidaknya sebuah doa menjadi jurus pamungkas saya untuk menyempurnakannya.

Berbagi Tugas dengan Suami.

Melihat rumah berantakan pastinya bikin nggak enak semua anggota keluarga. Jika memungkinkan saya akan mencoba membereskan. Tapi kalau memang tidak, serahkan saja pada suami takdir. Dengan bahasa-bahasa penuh makna sampaikan pada suami agar bisa membantu. Yah namanya suami kadang mau kadang nggak, ya nggak bisa dipaksa juga. Mulailah berfikir bahwasanya rumah yang berantakan adalah rumah yang orang-orang didalamnya hidup dan tumbuh. Sedikit berimajinasi mungkin akan membantu, dengan membayangkan bahwasanya baju-baju tergantung adalah tirai-tirai eksotis yang menjadi ornamen-ornamen indah dikamar. Imajinasikan mainan-mainan yang berserakan adalah taburan-taburan kelopak bunga mawar. Akan ada masanya semuanya rapi dan bersih. Sabar saja yang penting saya harus sediakan stok tenaga untuk bercengkrama dan bermain dengan anak-anak walaupun hanya pengantar tidur mereka saja. Jangan sampai dengan segala kelelahan malah menyisakan emosi-emosi tidak terkontrol untuk mereka.

Quality Time

Hal yang paling pahit untuk diterima memang soal waktu yang hilang bersama mereka. Kalau dihitung dari pulang kerja sampai mereka tidur mungkin saya hanya punya waktu kurang lebih 3 atau 4 jam bersama mereka. Hal ini yang membuat terkadang teori parenting tidak efektif ketika saya terapkan. Jadinya saya membuat teori sendiri saja hehe, walaupun tujuannya tetap sama yaitu bisa meningkatkan bonding diantara kami. Saya berusaha dalam waktu yang sedikit itu bisa memberikan hal-hal yang baik-baik saja. Mendampingi membaca buku, bermain, atau apa saja yang bisa menyenangkan mereka. Walau kadang saya akui tidak jarang mereka juga rewel dan bertingkah yang sangat amat menguji iman. Saya harus belajar mengendalikan diri, bersabar dan memeluk mereka sesering mungkin. Agar mereka paham dan mengerti walau saya sering tidak bersama mereka, setidaknya mereka tahu dan merasakan bahwasanya saya sangat menyayangi mereka. Dengan itu semoga mereka tidak banyak ulah ketika saya pulang hehe.

Bersyukur

Bagaimanapun kondisi saat ini satu hal yang harus saya lakukan tentunya bersyukur. Bersyukur akan membuat kita bahagia. Dengan semua rasa lelah yang kadang datang pastikan semuanya ikhlas agar bisa jadi pahala juga. Rugi kan kalau udah capek, menggerutu cuma dapat tetesan keringat doank. Refresh kembali niat, panjatkan lagi doa-doa bahwasanya dengan segala ketidaksempurnaan kita semoga Allah lengkapkan dengan rahmatNya. Semangatttt..!

Seketika saya teringat percakapan dengan driver ojol dipagi itu : 

“bu...maaf ya bu...ibu ada masalah ya?, wajah ibu kurang berseri gitu, seperti banyak masalah. Maaf ya bu bukannnya gimana?”
saya :
“Hmmmmmmm...gitu ya”
ah sudahlah....

11 komentar:

  1. hehe..saya baca ini kok seperti menertawakan diri sendiri. toss, mbak saya juga pengabdi mesin pinjer negara. Haduuh semakin menguji iman ini semenjak disuruh pinjer. Apalagi ini tempat saya ditambah pakai apel setiap pagi, lho mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha senasib mba...mesin pinjer emg bikin ribet aja mana 4x kali sehari harus nyetor wajah.. kalau saya cuma 1 kali seminggu mba hehe

      Hapus
  2. Aaaaah... izza.... Baru tau sisi izza yg pinter nulis kaya gini.sukses terus buat blog ny. Makasih ud sharing, ternyata saya ga sendirian di dunia ini yg keadaan ny sprt yg izza tulis. Makasih ud mengingatkan saya (pembaca) utk selalu bersyukur.
    Suksess terus izza... 😀

    BalasHapus
  3. Penting kita menyukai dan cinta akan pekerjaan kita. Itu artinya kita bersyukur akan pekerjaan saat ini. Dan apapun pekerjaan itu patut kita cintai dan syukuri Sis.

    JADI ENTERPRENEUR YUK!

    BalasHapus
  4. Betul mb, bersyukur adalah kunci kebahagiaan. Setiap orang pasti punya keribetan masing-masing, menerima dan menikmati apa yang harus kita jalani adalah cara paling sederhana untuk berhenti mengeluh.

    BalasHapus
  5. Mba i feel u, mb tydack sendiri karena aku juga begitu sering dinyinyirin orang kantor karena jadi HRD telat mulu padahal kadang aku juga masak dari malam, jam 4 udah masak juga tetep ada drama mewarnai apalagi anak udah 2 hahaha..

    untungnya kantorku maish bebas mba telat ga telat ga dipotong gaji :p
    sehat dan berbahagia selalu mba semangatttt

    BalasHapus
  6. Babang Ojol perhatian juga. Hahhaa... Semangaaat mbak Izza.. Bersyukur itu bisa makin meningkatkan nikmat yang kita rasakan... 🥰🥰🥰

    BalasHapus
  7. sbg ibu pekerja, aku bisa ngerti mba. krn kdg akupun ngalamin yg sama. mungkin soal masak, beres rumah dan anak2 oas aku ngantor, msh tertolong ya ama aisten dan babysitterku. tp tetep kok, kdg ngerasa berslah, krn kerjaanku di kantor bisa sampe malam banget. kdg aku pulang, anak2 udh tidur. paginya hrs kerja, mereka msh tidur.

    pgn sih kdg resign. tp kemudian inget bbrp kebutuhan yg bakal hilang kalo kerjaan aku tinggalin, ya sudahlah. ga jd kepikiran resign.

    utk nebus wkt dgn anak2, aku slalunya nyusun wkt liburan bareng. supaya mereka seneng juga dan ada quality time bareng keluarga.

    BalasHapus
  8. Semoga selalu dilimpahkan kesehatan dan kesabaran ya mbak. Tetap semangat! Ketika anak-anak masih kecil memang butuh banyak perhatian, waktu, dan tenaga. Percayalah mbak, saat anak-anak sudah mulai remaja, bakal merindukan masa-masa berat seperti ini.

    Anak-anak saya sudah remaja, kecuali si bungsu. Rumah walaupun sering berantakan tapi tidak separah dulu. Rumah juga terasa agak sepi karena si sulung kuliah diluar kota.

    BalasHapus
  9. Salut banget sama ibu yang harus membagi waktunya dengan bekerja juga. Saya pribadi hanya di rumah saja merasa waktu kayaknya kurang terus..

    BalasHapus