26 Feb 2019

Cara Mudah Memerah Asi dengan Tangan


Pengalaman jatuh bangun menyusui anak pertama memberikan saya banyak ilmu untuk lebih baik lagi ketika menyusui anak kedua. Perjuangan melepas sufor diawal-awal kehidupanya sudah saya bayar tuntas dengan menyusui sampai 2,5 tahun. Hal itu juga yang membuat saya yakin dan percaya diri bahwasanya saya akan bisa menyusui anak kedua dengan lebih mudah tanpa banyak kekhawatiran ASI saya tidak ada atau tidak cukup. Soal peralatan ASIP pun saya tidak lagi serepot dulu. Cukup bongkar alat pumping zaman si abang, cuci dan kemudian disterilkan. Hanya saja penyimpanan yang kurang baik ternyata bikin alat pompanya jadi kurang maksimal saat digunakan. Belum lagi ada bagian yang berjamur dan susah untuk dihilangkan.

Beda sama kelahiran anak pertama saya lebih mikir dua kali kalau mau beli-beli perlengkapan bayi termasuk juga perlengkapan pompa asi. Selain harganya yang lumayan mahal, perawatanya yang merepotkan Akhirnya mau tidak mau saya harus mencoba memerah dengan tangan saja, atau yang biasa dikenal dengan tekhnik marmet.

Apa Sih Teknik Marmet

Teknik marmet adalah metode memijat atau menstimulasi payudara menggunakan tangan untuk menghasilkan asi lebih optimal yang dipopulerkan oleh Chele Marmet dari Lactation Institute.

Saya pernah mencoba teknik ini sewaktu mengejar stok ASIP anak pertama dulu. Agak susah memang apalagi hanya berbekal gambar atau video dari youtube. Jadinya malah nyeri dan tidak nyaman. Ketika nanya sana-sini ada yang kasih tips dengan cara menyusui satu PD saja dan yang satu lagi untuk diperah. Hmm..cukup membantu sih, karena memerah saat PD penuh itu lebih gampang. Tapi tetap saja waktu itu pikiran saya lebih percaya kalau menggunakan alat pompa itu lebih mudah.

Disaat saya harus mulai stok ASI saat anak kedua saya mulai iseng mencoba lagi tekhnik marmet ini. Tanpa dibebani harus dapat banyak dan tanpa dikejar-kejar waktu akhirnya saya berhasil mendapatkan seperempat botol asip. Lumayan, walau jauh sekali dari ekspektasi. Saya mensiasati fikiran-fikiran negatif dengan menggabungkan asip yang sedikit tersebut. Tentunya dalam suhu yang sama. Jadinya pas lihat botol-botol penuh, saya jadi senang dan percaya bahwasanya ASI saya pasti cukup.

Hari pertama memerah asi menggunakan tangan hasilnya memang belum memuaskan. Apalagi kita belum terbiasa. Bahkan nggak sedikit juga yang bilang kalau memerah dengan tangan itu menyakitkan. Malahan menurut saya lebih sakit ketika harus menguras kantong untuk membeli alat pompa yang cukup mahal. Apalagi yang elektrik ya khan? Mengandalkan pompa manual pun menurut pengalaman saya tidak lebih baik dari memerah pake tangan. Karena tetap saja sama-sama capek. Belum lagi bunyi tuasnya yang kadang menganggu. Masalahnya untuk bisa memerah dengan tehnik marmet, kita memang perlu jam terbang tinggi sampai akhirnya dapat cara yang pas, sehingga bisa menghasikan ASIP yang banyak tanpa sakit dan tanpa membuang waktu.

Keuntungan memerah dengan tangan

Disamping tekhniknya yang gampang-gampang susah, memerah asi dengan tangan sebenarnya banyak sekali keuntungannya dibandingkan memakai alat pompa.

Hemat waktu dan uang

Memerah asi dengan tangan membuat kita bisa menghemat waktu dengan tidak perlu mencuci sterilkan peralatan. Hanya saja sebelum memerah pastikan dulu tangan dalam keadaan bersih. Kita pun tidak perlu membeli pompa yang harganya lumayan. Cukup mengandalkan kedua tangan dan kepercayaan diri kita bisa sukses memerah asi untuk sikecil

PD lebih mudah untuk dikosongkan

Memerah dengan tangan ASI bisa dikeluarkan sampai tuntas. Dengan demikian bisa memancing PD untuk menghasilkan ASI lagi. Sebagaimana prinsip ASI yang suplay on demand. Semakin sering dikosongkan, akan semakin sering diproduksi. Hasilnya ASI akan lebih banyak.

Lebih mudah memancing oksitosin

Ketika memerah asi dengan tangan, kita akan melakukan kontak langsung skin to skin.  Berbeda dengan menggunakan alat, PD akan berinteraksi dengan corong alat pompa. Dengan adanya kontak skin to skin ini akan lebih mempermudah teransangnya hormon oksitosin. Tentunya kita dalam keadaan relax dan tidak tergesa-gesa.

Nah, banyak yang nggak tau bagaimana cara memerah dengan tehnik marmet ini. Sebenarnya kalau googling banyak sekali video dan gambar yang bisa dijadikan pedoman. Tapi saya tidak akan menjabarkan secara teori. Hanya berdasarkan pengalaman bagaimana tips memerah asi dengan tangan bisa menghasilkan asi yang banyak dalam waktu yang singkat.

Cara Mudah Memerah Asi dengan Tangan  

Relaks dan santai

Bagi saya ini adalah faktor paling penting dalam memerah asi bagaimanapun tekhniknya. Ketika sudah diruang pumping biasanya saya sambil nonton youtube atau apa saja yang bisa bikin senang. Bisa juga dengan melihat video-video sikecil yang bikin kangen dan menggemaskan. Biasanya kalau udah gitu, akan ada sinyal LDR (Let Dow Reflex) dari PD nah ini saat yang paling tepat untuk memerah sampai LDR nya hilang. Kalau dalam bahasa saya LDR itu ketika PD berdenyut dan tiba-tiba memenuh seperti akan memuntahkan isinya. Hehe.

LDR ini akan sulit terasa kalau kita dalam keadaan gelisah, tidak nyaman dan tidak santai. Jadi kuncinya pikiran memang harus tenang. Singkirkan dulu sejenak segala hal-hal yang bikin proses memerah menjadi terkendala. 

Memerah PD bergantian.
Setiap kali mulai susah memerah atau dengan kata lain ASI nya tidak lagi muncrat-muncrat, saya akan pindah ke PD yang lain. Ketika juga sudah mulai kosong saya akan berhenti sejenak dan kembali menunggu LDR di PD tersebut. Begitu seterunya sampai volume botol yang saya inginkan terpenuhi. 

Memancing LDR
Banyak cara untuk memancing LDR. Bisa dengan memandang video atau foto sikecil seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Selain itu juga bisa dengan terus melakukan kontak skin to skin tangan dengan PD. Lakukan pijatan-pijatan kecil di semua area PD. Biasanya semakin sering kita memerah asi dengan tangan, kita akan mendapatkan cara yang pas bagaimana memancing LDR.

Setelah hampir setahun menyusui saya merasa masa ini adalah masa menyusui paling menyenangkan. Apalagi setelah saya mendapatkan cara yang pas memerah asi dengan tangan. Semoga ibu-ibu yang lain juga bisa merasakan apa yang saya rasakan, karena ternyata memerah dengan tangan itu lebih mudah, praktis dan hemat waktu.

semangat menyusui.

5 komentar:

  1. Samaa mbak, dulu waktu masih punya baby, saya malah paling nyaman memerah dengan tangan. Hasilnya juga lumayan tuh. apalagi kalau tekniknya benar. trus tidak nyeri. Pernah baca, memerah dengan alat , kalau tidak higinis dan tidak tepat malah bisa memicu pembengkakan. Pokoknya ASI is the best ya, mbak

    BalasHapus
  2. saya pernah nyoba tapi iya perih pegel gitu, akhirnya nyerah deh.. haha.

    BalasHapus
  3. kalo aku masih mending marmet dibanding pompa manual, kalo pake pompa manual keluarnya dikit banget.. kalo pompa elektrik paling banyak, mungkin aku rileks dan LDR nya karena disambi main HP, hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha bener banget aku juga sambil main hp,,,

      Hapus
  4. hebaat sih, bisa pakai teknik marmet. mungkin aku yg cepet menyerah wkt itu ,jd lbh seneng pake pompa :D.

    BalasHapus