6 Feb 2019

Belajar Zerowaste dengan Ecobrick

 
ecobrick

Saya termenung seketika melihat botol air mineral yang airnya baru saja habis untuk melepas dahaga. Perjalanannya setelah ini tentu saja akan panjang menghuni bumi ini beratus-ratus tahun lamanya. Disaat saya mungkin sudah sibuk dihisab oleh malaikat, botol ini akan tetap ada sampai waktu mentakdirkannya untuk hancur. Apalah mau dikata kalau ternyata botol ini malah memperberat hisab saya diakhirat. Karena ternyata setelah menempuh sekian kilomoter akhirnya perjalananya bermuara kelaut yang mengakibatkan seekor binatang laut tersiksa dan terlukai olehnya dan kemudian tewas. Hiks.

Semenjak mengikuti kuliah online tentang sampah dengan Mba DK Wardhani, mata saya seperti terbuka untuk memandang masalah persampahan dibumi ini. Sebelumnya sih boro-boro mikirin sampah. Rumah bersih saja rasanya udah syukur alhamdulillah. Soal sampah tinggal buang ketempatnya, selesai deh. Tapi ternyata masalah persampahan di bumi ini tidak sesederhana itu.

Berita buruknya kita harus menerima kenyataan kalau ternyata Indonesia peringkat kedua negara yang paling banyak mencemari lautan (Source : The Wall Street Journal, 2010). Dengan kata lain saking banyak sampah-sampah yang kita hasilkan membuatnya bermuara sampai kelaut. Yowes lah bagaimana tidak, pengelolaan yang tidak baik, tempat pembuangan akhir yang menggunung, serta masih banyak yang buang sampah kesungai membuatnya mengalirr sampai jauh, akhirnya ke lauut. Kebayang nggak sih bagaimana kotornya laut yang harus  direnangi oleh ikan-ikan yang kita makan?
(Sumber : politicoexplorer)
Ketika saya disuguhi dengan gambar-gambar binatang laut yang sengsara dengan sampah sungguh membuat saya sedih “aduuuh bagaimana ini”? Mereka seharusnya bisa hidup tenang dihabitat mereka, tanpa harus teranggu dengan sampah plastik yang menggerogoti tubuh mereka. Bayangkan kalau ternyata yang menjerat tubuh mereka adalah salah satu sampah yang kita buang. Seekor anjing laut dengan wajah pasrah merasakan jeratan tali plastik dilehernya. Penyu dengan cangkang yang bengkok, paus yang mati dengan perut penuh sampah plastik. Kan gak lucu kalau Aquaman juga mesti pake kostum kantong kresek karena ulah kita? Menyedihkan ya? Kita sebagai makhluk ciptaan Allah yang sempurna  bisa sekejam itu pada mereka. Ckckckc
(sumber : IDN Times)

Memang kita tidak mungkin bisa tiba-tiba menyulap sampah-sampah itu hilang. Bahkan mungkin kita akan berdalih, "yah mau gimana lagi mungkin emang udah jalannya begitu". Kebiasaan-kebiasaan buruk itu akan selalu mencari pembelaan untuk menghalangi perubahan kita. Padahal sekecil apapun perubahan yang kita lakukan, jika bersama-sama akan besar sekali dampaknya. Saat ini banyak sekali gerakan zerowaste yang bertujuan untuk mengurangi produksi sampah dimuka bumi. Seperti mengganti kantong kresek dengan tas, menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan, melakukan daur ulang dan masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah.

Saya sendiri jujur masih dalam tahap belajar menerapkan zerowaste dalam kehidupan sehari-hari. Satu hal prestasi saya yah baru mengganti popok sekali pakai dengan clodi, yes! i do it. Yup bagi saya itu prestasi, karena dulu mikirnya pakai clodi itu repot banget harus sering nyuci dan segala macam perawatanya. Tetapi semua itu bisa dikalahkan ketika saya membayangkan besarnya sumbangan sampah pospak yang saya berikan setiap hari di bumi ini. Rasa bersalah yang akhirnya bisa saya atasi dengan berbaik hati memakai clodi.

Selain itu saya juga membuat ecobrick untuk sampah-sampah plastik yang memang tidak bisa dihindari. Sebenarnya ecobrick merupakan pintu terakhir setelah kita berusaha melakukan 5R yaitu Reduse, Reuse, Recycle, Replace, dan Repair. Jangan sampai karena ada ecobrick membuat kita malah lupa tujuan sebenarnya tetap untuk mengurangi sampah plastik itu sendiri. Apalagi membuatnya ecobrick ini memang seru sih..hehe

Berhubung karena saya baru belajar zerowaste dan sampah plastik dirumah terlanjur banyak akhinya saya dan anak-anak membuat ecobrick. Hitung-hitung bantu bersih-bersih.

Apa sih Ecobrick?

sumber : butterflyworld.co.za

Ecobrick adalah botol plastik yang diisi padat dengan limbah non-biologicaluntuk membuat blok bangunan yang dapat digunakan kembali. (Sumber:zerowaste.id). Ecobrick ini nantinya bisa menjadi bahan untuk membuat furnitur modular, perabotan indoor, ruang kebun, ruang hijau, dinding struktur dan bangunan seperti sekolah dan rumah. Wah keren kan.. 
sumber : www.dispatchlive.co.za

Cara membuatnya sangat gampang.
  1. Sediakan sampah non organik dan non biologi seperti styrofoam, kantong plastik, bungkus makanan, gelas plastik, kertas kaca, dll. Pastikan semua sampah dalam keadaan bersih dan kering ya.
  2. Pilih botol plastik yang akan diisi sampah.
  3. Sediakan tongkat kayu untuk memadatkan isi botol.
Agar ecobrick lebih berwarna kita bisa mengkondisikan warna dasarnya sesuai keinginan.

Bikin ecobrick ini sangat seru dan menyenangkan ketika dikenalkan kepada anak-anak. Selain mengajarkan mereka untuk bijak mengelola sampah sendiri, kita juga tahu ternyata oh ternyata jajan mereka banyak sekali. Tapi mereka malah senang kalau ecobricknya cepat penuh, yang jadinya malah cari-cari sampah plastik kemana-mana. Hadew..

digunting dulu biar padat

this is my ecobrick

Agar ecobricknya padat dan berat usahakan jangan ada ruang didalam botol. Bisa diatasi dengan menggunting sampah-sampah plastik tersebut menjadi potongan-potongan kecil terlebih dahulu. Nah bisa jadi ide buat montesori dirumah juga kan. Sembari bersih-bersih, bisa nabung ecobrick buat bikin rumah eh. 

Setelah penuh dan padat ecobrick ini nanti akan cukup berat, untuk ukuran botol 500ml beratnya bisa sekitar 180 gram. Lumayanlah untuk ganti barbel. Penggunaanya kurang lebih sama dengan batu bata ,dikumpulkan untuk kemudian dibuat meja, kursi atau bangku taman. Tentunya ukuran botolnya harus sama. Kita juga bisa bergabung dengan komunitas GoBrik. Nanti Ecobrick bisa dikumpulkan di tempat terdekat dan dimanfaatkan bersama. Selengkapnya lihat di Ecobricks.org

Ocean Ecobrick

Selain ecobrick kita juga bisa membuat ocean ecobrick yang mana lebih dikhususkan untuk sampah plastik yang basah. Biasanya sampah seperti ini sering ditemui di tepi pantai, sungai dan lautan karena kondisinya yang cenderung basah dan susah untuk dibersihkan. 



Cara membuatnya :
  1. Sediakan dua botol plastik yang akan diisi sampah plastik. 
  2. Potong botol menjadi dua bagian (buang bagian atas botol)
  3. Isi bagian bawah dengan plastik berwarna perak.
  4. Masukan sampah-sampah plastik sambil dipadatkan dengan tongkat. Begitu juga dengan bagian potongan botol yang satunya lagi.
  5. Satukan botol sembari diputar dan dipadatkan
Jika ecobrick cocok untuk membuat furniture rumah, ocean ecobrick lebih cocok tepat untuk digunakan diluar rumah seperti ruang hijau, bangku taman dll.  

Banyak yang bisa kita lakukan untuk tetap memelihara bumi ini dengan baik. Tinggal pilih dibagian mana kita mengambil peran. Nggak usah mikirin, "emang ngaruh gitu sama bumi kalau aku lakuin ini"? Kalau 80 juta orang melakukan hal kecil itu pastinya akan sangat berpengaruh sekali. Mulai dari yang mudah saja, secara bertahap. Hal ini saya sampaikan sebenarnya juga untuk memotivasi diri sendiri agar lebih konsisten. Sekaligus mengajak kita semua agar lebih bijak mengurangi sampah plastik.











1 komentar:

  1. waaah aku baru tahu ttg eco brick ini. ada bbrp botol mineral water yg bkm aku buang. jd kepikiran untuk membuat seperti inj. akupun blm bisa 100% tidak memakai plastik mba. tp slalu berusaha utk ga membuang sampahnya di sembarangan tempat, apalagi di laut, sungai yg bisa membahayakan makhluk2 air :( . sedih kalo liat penyu yg hidungnya kemasukan sedotan, ato paus yng mati krn sampah :(

    BalasHapus