26 Feb 2019

Cara Mudah Memerah Asi dengan Tangan


Pengalaman jatuh bangun menyusui anak pertama memberikan saya banyak ilmu untuk lebih baik lagi ketika menyusui anak kedua. Perjuangan melepas sufor diawal-awal kehidupanya sudah saya bayar tuntas dengan menyusui sampai 2,5 tahun. Hal itu juga yang membuat saya yakin dan percaya diri bahwasanya saya akan bisa menyusui anak kedua dengan lebih mudah tanpa banyak kekhawatiran ASI saya tidak ada atau tidak cukup. Soal peralatan ASIP pun saya tidak lagi serepot dulu. Cukup bongkar alat pumping zaman si abang, cuci dan kemudian disterilkan. Hanya saja penyimpanan yang kurang baik ternyata bikin alat pompanya jadi kurang maksimal saat digunakan. Belum lagi ada bagian yang berjamur dan susah untuk dihilangkan.

Beda sama kelahiran anak pertama saya lebih mikir dua kali kalau mau beli-beli perlengkapan bayi termasuk juga perlengkapan pompa asi. Selain harganya yang lumayan mahal, perawatanya yang merepotkan Akhirnya mau tidak mau saya harus mencoba memerah dengan tangan saja, atau yang biasa dikenal dengan tekhnik marmet.

Apa Sih Teknik Marmet

Teknik marmet adalah metode memijat atau menstimulasi payudara menggunakan tangan untuk menghasilkan asi lebih optimal yang dipopulerkan oleh Chele Marmet dari Lactation Institute.

Saya pernah mencoba teknik ini sewaktu mengejar stok ASIP anak pertama dulu. Agak susah memang apalagi hanya berbekal gambar atau video dari youtube. Jadinya malah nyeri dan tidak nyaman. Ketika nanya sana-sini ada yang kasih tips dengan cara menyusui satu PD saja dan yang satu lagi untuk diperah. Hmm..cukup membantu sih, karena memerah saat PD penuh itu lebih gampang. Tapi tetap saja waktu itu pikiran saya lebih percaya kalau menggunakan alat pompa itu lebih mudah.

Disaat saya harus mulai stok ASI saat anak kedua saya mulai iseng mencoba lagi tekhnik marmet ini. Tanpa dibebani harus dapat banyak dan tanpa dikejar-kejar waktu akhirnya saya berhasil mendapatkan seperempat botol asip. Lumayan, walau jauh sekali dari ekspektasi. Saya mensiasati fikiran-fikiran negatif dengan menggabungkan asip yang sedikit tersebut. Tentunya dalam suhu yang sama. Jadinya pas lihat botol-botol penuh, saya jadi senang dan percaya bahwasanya ASI saya pasti cukup.

Hari pertama memerah asi menggunakan tangan hasilnya memang belum memuaskan. Apalagi kita belum terbiasa. Bahkan nggak sedikit juga yang bilang kalau memerah dengan tangan itu menyakitkan. Malahan menurut saya lebih sakit ketika harus menguras kantong untuk membeli alat pompa yang cukup mahal. Apalagi yang elektrik ya khan? Mengandalkan pompa manual pun menurut pengalaman saya tidak lebih baik dari memerah pake tangan. Karena tetap saja sama-sama capek. Belum lagi bunyi tuasnya yang kadang menganggu. Masalahnya untuk bisa memerah dengan tehnik marmet, kita memang perlu jam terbang tinggi sampai akhirnya dapat cara yang pas, sehingga bisa menghasikan ASIP yang banyak tanpa sakit dan tanpa membuang waktu.

Keuntungan memerah dengan tangan

Disamping tekhniknya yang gampang-gampang susah, memerah asi dengan tangan sebenarnya banyak sekali keuntungannya dibandingkan memakai alat pompa.

Hemat waktu dan uang

Memerah asi dengan tangan membuat kita bisa menghemat waktu dengan tidak perlu mencuci sterilkan peralatan. Hanya saja sebelum memerah pastikan dulu tangan dalam keadaan bersih. Kita pun tidak perlu membeli pompa yang harganya lumayan. Cukup mengandalkan kedua tangan dan kepercayaan diri kita bisa sukses memerah asi untuk sikecil

PD lebih mudah untuk dikosongkan

Memerah dengan tangan ASI bisa dikeluarkan sampai tuntas. Dengan demikian bisa memancing PD untuk menghasilkan ASI lagi. Sebagaimana prinsip ASI yang suplay on demand. Semakin sering dikosongkan, akan semakin sering diproduksi. Hasilnya ASI akan lebih banyak.

Lebih mudah memancing oksitosin

Ketika memerah asi dengan tangan, kita akan melakukan kontak langsung skin to skin.  Berbeda dengan menggunakan alat, PD akan berinteraksi dengan corong alat pompa. Dengan adanya kontak skin to skin ini akan lebih mempermudah teransangnya hormon oksitosin. Tentunya kita dalam keadaan relax dan tidak tergesa-gesa.

Nah, banyak yang nggak tau bagaimana cara memerah dengan tehnik marmet ini. Sebenarnya kalau googling banyak sekali video dan gambar yang bisa dijadikan pedoman. Tapi saya tidak akan menjabarkan secara teori. Hanya berdasarkan pengalaman bagaimana tips memerah asi dengan tangan bisa menghasilkan asi yang banyak dalam waktu yang singkat.

Cara Mudah Memerah Asi dengan Tangan  

Relaks dan santai

Bagi saya ini adalah faktor paling penting dalam memerah asi bagaimanapun tekhniknya. Ketika sudah diruang pumping biasanya saya sambil nonton youtube atau apa saja yang bisa bikin senang. Bisa juga dengan melihat video-video sikecil yang bikin kangen dan menggemaskan. Biasanya kalau udah gitu, akan ada sinyal LDR (Let Dow Reflex) dari PD nah ini saat yang paling tepat untuk memerah sampai LDR nya hilang. Kalau dalam bahasa saya LDR itu ketika PD berdenyut dan tiba-tiba memenuh seperti akan memuntahkan isinya. Hehe.

LDR ini akan sulit terasa kalau kita dalam keadaan gelisah, tidak nyaman dan tidak santai. Jadi kuncinya pikiran memang harus tenang. Singkirkan dulu sejenak segala hal-hal yang bikin proses memerah menjadi terkendala. 

Memerah PD bergantian.
Setiap kali mulai susah memerah atau dengan kata lain ASI nya tidak lagi muncrat-muncrat, saya akan pindah ke PD yang lain. Ketika juga sudah mulai kosong saya akan berhenti sejenak dan kembali menunggu LDR di PD tersebut. Begitu seterunya sampai volume botol yang saya inginkan terpenuhi. 

Memancing LDR
Banyak cara untuk memancing LDR. Bisa dengan memandang video atau foto sikecil seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Selain itu juga bisa dengan terus melakukan kontak skin to skin tangan dengan PD. Lakukan pijatan-pijatan kecil di semua area PD. Biasanya semakin sering kita memerah asi dengan tangan, kita akan mendapatkan cara yang pas bagaimana memancing LDR.

Setelah hampir setahun menyusui saya merasa masa ini adalah masa menyusui paling menyenangkan. Apalagi setelah saya mendapatkan cara yang pas memerah asi dengan tangan. Semoga ibu-ibu yang lain juga bisa merasakan apa yang saya rasakan, karena ternyata memerah dengan tangan itu lebih mudah, praktis dan hemat waktu.

semangat menyusui.

21 Feb 2019

Saya Bekerja dan Saya Harus Bahagia



Menyeimbangkan antara karir dan rumah tangga bukanlah hal yang mudah bagi sebagian orang. Ada saja permasalahan yang mengakibatkan salah satu sisi terabaikan. Bukan..bukan untuk menjudge profesi seorang ibu yang memilih bekerja. Anggap segala keributan itu sudah kita khatamkan disosmed. Karena pada dasarnya seorang ibu tetaplah IBU yang selalu berusaha memberikan yang terbaik buat anak-anaknya, apapun profesinya.

Saya sendiri sampai saat ini belum menemukan ritme yang pas agar keduanya bisa berjalan dengan cukup baik. Entah saya yang tidak berbakat dalam manajemen waktu atau memang waktu yang tidak mau bersahabat dengan saya. Karena memang 24 jam seperti nya kurang untuk mengurus keduanya. Apalagi sebagai pegawai pengabdi pada mesin fingerprint negara, saya harus bisa mengatur sedemikian rupa agar berbagai drama dipagi hari tidak mengancam tunjangan kinerja. Sayang banget kan harus kehilangan 20ribuan, lumayan buat beli kinderjoy untuk anak-anak.

Berbagai percobaan dengan segala strategi sebenarnya sudah beberapa kali saya coba. Seperti memulai bangun jam 4 lalu masak mpasi sikecil, masak untuk keluarga, mandiin anak-anak, mondar-mandir tau-tau udah jam 7. Akhirnya banyak hal yang kadang harus di skip, seperti nggak sempat sarapan atau juga nggak mandi ehm (cuma beberapa kali kok). Atau saya juga pernah mencoba mengerjakan semuanya di malam hari dengan segala to do list untuk menyiapkan segala keperluan dipagi hari. Lumayan sih, cuma saya harus menunggu anak-anak tidur dulu baru bisa bekerja. Nasib baik kalau mereka tidurnya cepat. Kalau jam 10 atau jam 11 rasanya stok tenaga juga udah mulai menipis. Pengennya udah di tempat tidur sambil mencerahkan wajah dengan serum layar hp dan kemudian tidur.

Hal yang cukup menjadi polemik memang soal memasak. Sering kali saya harus pasrah sama rumah makan, abang-abang pedagang kaki lima dan juga telur ceplok untuk solusi makan malam kami. Bukan soal tidak pandai ataupun malas. Bahkan pedagang ikan yang sering mampir didepan kantor sudah hafal kalau setiap senin dan kamis saya pasti beli ikannya. Dengan harapan bisa menyiapkan makan malam yang sehat untuk anak-anak. Tapi terkadang kenyataanya ikan-ikan itu lebih senang nongkrong lama di freezer dibandingkan berkorban untuk kami masak. hiks

Bak superhero jadul saya harus sering berganti-ganti kostum dalam waktu singkat dengan sekali teriakan “BERUBAHHHH”. Tanpa ba bi bu ketika disambut oleh anak-anak sampai dirumah, saya harus langsung bisa menjadi ibu yang baik buat mereka. Tidak ada cerita duduk-duduk, nyantai dulu atau leyeh-leyeh dulu. Kalau bisa sembari menanyakan kegiatan mereka seharian tangan-tangan saya harus cekatan memasukan baju-baju kotor ke mesin cuci.

Stress? Kadang sih. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari University of Manchester dan University of Essex menyatakan bahwa ibu yang bekerja seharian dan memiliki dua anak memang memiliki tingkat stres kronis 40% lebih tinggi pada wanita yang bekerja penuh waktu dengan tanpa anak-anak. Sedangkan yang memiliki satu anak hanya 18% lebih tinggi. Stress kronik ini bisa menyebabkan beberapa gangguan fisik, seperti mudah marah, cemas, depresi, sakit kepala, dan susah tidur.

Tapi dengan segala rutinitas yang bejibun itu apa iya kita harus pasrah membiarkan jiwa ini dirasuki yang namanya "Stress"? Sensitif dan Emosi yang tidak stabil, ujung-ujungnya malah berimbas sama anak-anak. Kasihan sekali mereka yang harus kehilangan waktu dengan ibunya, pas bertemu pun harus menerima kejutekan ibunya. Lebih kasihan lagi ibunya, udah kerja dikantor seharian plus kerja dirumah habis itu stress pula dengan keadaan. Nope! tarik nafas dalam-dalam, semua akan baik-baik saja (menghibur diri)

Sederhanakan Standar sesuai dengan Keadaan 

Walaupun sebagai seorang perempuan yang punya jurus multitasking saya tidak mungkin jadi wonderwoman ataupun superwoman. Saya harus berdamai dengan situasi agar tetap waras dan bahagia. Idealisme tentang pengasuhan dan rumah tangga mesti sedikit saya kesampingkan demi kesehatan jiwa dan pikiran. Karena anak-anak tentunya lebih memilih kehadiran saya disamping mereka dari pada segala hal yang saya persiapkan untuk mereka. Saya harus menekan sedikit harapan-harapan yang memang sulit karena keadaan. Nggak sempat masak, tidak apa-apa kan masih ada yang jualan makanan. Nggak sempat nyuci, nggak apa-apa masih ada loundry atau ditumpuk dulu juga nggak apa-apa lebih hemat listrik. Rumah berantakan, nggak apa-apa tanda orang dirumah masih sehat-sehat dan aktif semua. Segala pemakluman itu sangat membantu saya agar segala kelelahan itu tidak sampai mempengaruhi emosi saya menghadapi anak-anak.

Menjadi ibu yang sempurnya tentunya tidak mungkin, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Yang terpenting adalah berusaha walaupun akhirnya mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Seperti ketika hanya sempat membuatkan telur ceplok buat anak saya, saya berdoa semoga walau hanya dengan telur ia bisa tumbuh sehat, sholeh dan jadi anak yang membanggakan. Hal kecil memang, tapi setidaknya dengan waktu yang sudah saya usahakan dan kemudian hanya bisa membuatkan telur ceplok, setidaknya sebuah doa menjadi jurus pamungkas saya untuk menyempurnakannya.

Berbagi Tugas dengan Suami.

Melihat rumah berantakan pastinya bikin nggak enak semua anggota keluarga. Jika memungkinkan saya akan mencoba membereskan. Tapi kalau memang tidak, serahkan saja pada suami takdir. Dengan bahasa-bahasa penuh makna sampaikan pada suami agar bisa membantu. Yah namanya suami kadang mau kadang nggak, ya nggak bisa dipaksa juga. Mulailah berfikir bahwasanya rumah yang berantakan adalah rumah yang orang-orang didalamnya hidup dan tumbuh. Sedikit berimajinasi mungkin akan membantu, dengan membayangkan bahwasanya baju-baju tergantung adalah tirai-tirai eksotis yang menjadi ornamen-ornamen indah dikamar. Imajinasikan mainan-mainan yang berserakan adalah taburan-taburan kelopak bunga mawar. Akan ada masanya semuanya rapi dan bersih. Sabar saja yang penting saya harus sediakan stok tenaga untuk bercengkrama dan bermain dengan anak-anak walaupun hanya pengantar tidur mereka saja. Jangan sampai dengan segala kelelahan malah menyisakan emosi-emosi tidak terkontrol untuk mereka.

Quality Time

Hal yang paling pahit untuk diterima memang soal waktu yang hilang bersama mereka. Kalau dihitung dari pulang kerja sampai mereka tidur mungkin saya hanya punya waktu kurang lebih 3 atau 4 jam bersama mereka. Hal ini yang membuat terkadang teori parenting tidak efektif ketika saya terapkan. Jadinya saya membuat teori sendiri saja hehe, walaupun tujuannya tetap sama yaitu bisa meningkatkan bonding diantara kami. Saya berusaha dalam waktu yang sedikit itu bisa memberikan hal-hal yang baik-baik saja. Mendampingi membaca buku, bermain, atau apa saja yang bisa menyenangkan mereka. Walau kadang saya akui tidak jarang mereka juga rewel dan bertingkah yang sangat amat menguji iman. Saya harus belajar mengendalikan diri, bersabar dan memeluk mereka sesering mungkin. Agar mereka paham dan mengerti walau saya sering tidak bersama mereka, setidaknya mereka tahu dan merasakan bahwasanya saya sangat menyayangi mereka. Dengan itu semoga mereka tidak banyak ulah ketika saya pulang hehe.

Bersyukur

Bagaimanapun kondisi saat ini satu hal yang harus saya lakukan tentunya bersyukur. Bersyukur akan membuat kita bahagia. Dengan semua rasa lelah yang kadang datang pastikan semuanya ikhlas agar bisa jadi pahala juga. Rugi kan kalau udah capek, menggerutu cuma dapat tetesan keringat doank. Refresh kembali niat, panjatkan lagi doa-doa bahwasanya dengan segala ketidaksempurnaan kita semoga Allah lengkapkan dengan rahmatNya. Semangatttt..!

Seketika saya teringat percakapan dengan driver ojol dipagi itu : 

“bu...maaf ya bu...ibu ada masalah ya?, wajah ibu kurang berseri gitu, seperti banyak masalah. Maaf ya bu bukannnya gimana?”
saya :
“Hmmmmmmm...gitu ya”
ah sudahlah....

12 Feb 2019

Weekend di Edukidz Play Centre


Semenjak beranak dua saya agak malas untuk pergi-pergi refreshing kemanaa gitu. Pada dasarnya bagi emak-emak seperti saya pergi refreshing hanya  memindahkan kerempongan dirumah ketempat lain. Weekend kami akhir-akhir ini lebih sering dirumah saja. Anak-anak juga nggak nuntut mesti kemana, bagi mereka asal ada emaknya sepertinya udah lebih dari cukup. Palingan kita cuma refreshing ke mini market berhubung disini emang nggak ada alfamart juga. Atau paling dekat cukup bawa anak-anak ke warung "nek ita" beli kotak-kotak berhadiah yang isinya absurd banget menurut saya. Tapi mereka senang banget lho.

Walau demikian sekali-sekali saya juga pengen sih menghabiskan weekend diluar. Hitung-hitung melupakan sejenak tentang segala percucian dan persetrikaan. Pengennya ada tempat yang bisa menghibur anak-anak dan saya pun tidak perlu repot-repot kesana kemari mengikuti langkah mereka. Untungnya di Bukittinggi sekarang udah ada Playground yang cukup recomended menurut saya. Kalau dulu mah kita mainnya di Playgorund Ramayana aja. Bayar 10ribu untuk satu jam. Baru aja rasanya selonjoran, eh tau-tau udah satu jam aja. Anak-anak nggak puas, apalagi tempatnya agak kecil dan harus rebutan sama anak-anak yang lain.

Waktu pertama kali kita ke Edukidz ini udah bikin saya jatuh cinta. Apalagi kalau sepi, udah kayak rumah sendiri. Kalau lapar tinggal pesan makanan, mau sholat ada, ruangan buat ibu menyusui juga ada. Yang paling saya suka adalah pustakanya. Banyak buku anak-anak yang biasa dijadiin arisan online ada disini. Sembari mereka main saya bisa me time juga dengan tenang dan tentram.
PUSTAKA
PUSTAKA

MUSHOLA


RUANGAN MENYUSUI
Banyak sekali permainan yang bisa dinikmati anak-anak disini. Salah satu yang anak saya suka adalah mandi bola. Kombinasi warna bolanya bagus, apalagi wallpapernya keren banget.Karena tempat ini dari awal masuk sampai ke toiletnya bersih, jadi saya yakin kolam bolanya juga bersih. Ngeri juga dengar cerita kolam bola yang ada lipan didalamnya. Disamping itu musholanya juga banyak mukena yang pastinya wangi banget. Gimana nggak betah ya.

KOLAM BOLA

Tempat Memanah



Lantai 1
umur 2 tahun kebawah

Selain mandi bola, juga ada tempat memanah lho. Hanya saja sepertinya lebih cocok untuk 5 tahun keatas karena panahnya agak berat. Disamping tempat memanah ada wall climbing yang nantinya kalau udah diatas bisa prosotan nyebur kekolam bola. Disini juga ada Pretend Play yaitu permainan imajinasi atau kalau saya bilangnya main pura-pura. Ada permainan pura-pura jadi Koki lengkap dengan dapur, alat masak dan kostumnya. Juga ada permainan pura-pura jadi Dokter lengkap dengan boneka dan alat kedokterannya. Yang paling penting bagi saya adalah tempat untuk anak dibawah umur 2 tahun. Bersyukur setiap kali kesini nggak ada bayi yang masuk ke arena ini. Jadinya sikecil bisa saya biarkan bebas bereksplorasi dengan mainan yang ada, dan saya bisa sedikit santai.

FOODCOURT LANTAI 1

Menu di foodcourt-nya tidak terlalu banyak sih. Soal rasa lumayan enak. Kalau menurut saya menunya kebanyakan frozen food. Mungkin agar anak-anak yang lagi GTM bisa juga makan disini. Hehe.. Sembari makan kita juga masih bisa memantau anak-anak lho, tapi tempat duduknya agak tinggi. Saya sih kurang nyaman, biasa lesehan soalnya hehe. Jadinya kalau pengen lesehan kita bisa ke lantai dua, sembari anak-anak istirahat dan juga bisa ngasih makan ikan Koi.

Lantai 2

IKAN KOI


Di lantai dua sepertinya memang khusus untuk makan. Kita bisa milih di lesehan atau di meja makan. Hanya saja anak-anak agak ngeri naik tangga yang kecil dan berputar. Susah kalau pas naik ada pengunjung yang turun. Saya sendiri pun agak takut sih. Jadinya anak-anak digendong aja naik kelantai dua.

Satu hal yang disayangkan selain tangganya adalah lahan parkirnya. Banyak mobil yang memanfaatkan bahu jalan sebagai tempat parkir. Kalau hari biasa mungkin tidak terlalu kentara, nggak kebayang bagaimana kalau weekend.

TANGGA

Dengan membayar Rp.30.000/anak kita udah bisa main sepuasnya di Edukidz ini. Makanan buat Ikan Koi juga dikasih gratis 1 kantong perorang. Paling enak kesini pagi hari, karena masih sepi. Kalau udah siang biasanya udah mulai rame, karena banyak pengunjung yang dari pagi belum pulang-pulang. Jangan lupa kalau kesini bawa kaus kaki, biar nggak keluar duit lagi untuk beli kaus kaki hihi.


6 Feb 2019

Belajar Zerowaste dengan Ecobrick

 
ecobrick

Saya termenung seketika melihat botol air mineral yang airnya baru saja habis untuk melepas dahaga. Perjalanannya setelah ini tentu saja akan panjang menghuni bumi ini beratus-ratus tahun lamanya. Disaat saya mungkin sudah sibuk dihisab oleh malaikat, botol ini akan tetap ada sampai waktu mentakdirkannya untuk hancur. Apalah mau dikata kalau ternyata botol ini malah memperberat hisab saya diakhirat. Karena ternyata setelah menempuh sekian kilomoter akhirnya perjalananya bermuara kelaut yang mengakibatkan seekor binatang laut tersiksa dan terlukai olehnya dan kemudian tewas. Hiks.

Semenjak mengikuti kuliah online tentang sampah dengan Mba DK Wardhani, mata saya seperti terbuka untuk memandang masalah persampahan dibumi ini. Sebelumnya sih boro-boro mikirin sampah. Rumah bersih saja rasanya udah syukur alhamdulillah. Soal sampah tinggal buang ketempatnya, selesai deh. Tapi ternyata masalah persampahan di bumi ini tidak sesederhana itu.

Berita buruknya kita harus menerima kenyataan kalau ternyata Indonesia peringkat kedua negara yang paling banyak mencemari lautan (Source : The Wall Street Journal, 2010). Dengan kata lain saking banyak sampah-sampah yang kita hasilkan membuatnya bermuara sampai kelaut. Yowes lah bagaimana tidak, pengelolaan yang tidak baik, tempat pembuangan akhir yang menggunung, serta masih banyak yang buang sampah kesungai membuatnya mengalirr sampai jauh, akhirnya ke lauut. Kebayang nggak sih bagaimana kotornya laut yang harus  direnangi oleh ikan-ikan yang kita makan?
(Sumber : politicoexplorer)
Ketika saya disuguhi dengan gambar-gambar binatang laut yang sengsara dengan sampah sungguh membuat saya sedih “aduuuh bagaimana ini”? Mereka seharusnya bisa hidup tenang dihabitat mereka, tanpa harus teranggu dengan sampah plastik yang menggerogoti tubuh mereka. Bayangkan kalau ternyata yang menjerat tubuh mereka adalah salah satu sampah yang kita buang. Seekor anjing laut dengan wajah pasrah merasakan jeratan tali plastik dilehernya. Penyu dengan cangkang yang bengkok, paus yang mati dengan perut penuh sampah plastik. Kan gak lucu kalau Aquaman juga mesti pake kostum kantong kresek karena ulah kita? Menyedihkan ya? Kita sebagai makhluk ciptaan Allah yang sempurna  bisa sekejam itu pada mereka. Ckckckc
(sumber : IDN Times)

Memang kita tidak mungkin bisa tiba-tiba menyulap sampah-sampah itu hilang. Bahkan mungkin kita akan berdalih, "yah mau gimana lagi mungkin emang udah jalannya begitu". Kebiasaan-kebiasaan buruk itu akan selalu mencari pembelaan untuk menghalangi perubahan kita. Padahal sekecil apapun perubahan yang kita lakukan, jika bersama-sama akan besar sekali dampaknya. Saat ini banyak sekali gerakan zerowaste yang bertujuan untuk mengurangi produksi sampah dimuka bumi. Seperti mengganti kantong kresek dengan tas, menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan, melakukan daur ulang dan masih banyak lagi yang bisa kita lakukan untuk mengurangi sampah.

Saya sendiri jujur masih dalam tahap belajar menerapkan zerowaste dalam kehidupan sehari-hari. Satu hal prestasi saya yah baru mengganti popok sekali pakai dengan clodi, yes! i do it. Yup bagi saya itu prestasi, karena dulu mikirnya pakai clodi itu repot banget harus sering nyuci dan segala macam perawatanya. Tetapi semua itu bisa dikalahkan ketika saya membayangkan besarnya sumbangan sampah pospak yang saya berikan setiap hari di bumi ini. Rasa bersalah yang akhirnya bisa saya atasi dengan berbaik hati memakai clodi.

Selain itu saya juga membuat ecobrick untuk sampah-sampah plastik yang memang tidak bisa dihindari. Sebenarnya ecobrick merupakan pintu terakhir setelah kita berusaha melakukan 5R yaitu Reduse, Reuse, Recycle, Replace, dan Repair. Jangan sampai karena ada ecobrick membuat kita malah lupa tujuan sebenarnya tetap untuk mengurangi sampah plastik itu sendiri. Apalagi membuatnya ecobrick ini memang seru sih..hehe

Berhubung karena saya baru belajar zerowaste dan sampah plastik dirumah terlanjur banyak akhinya saya dan anak-anak membuat ecobrick. Hitung-hitung bantu bersih-bersih.

Apa sih Ecobrick?

sumber : butterflyworld.co.za

Ecobrick adalah botol plastik yang diisi padat dengan limbah non-biologicaluntuk membuat blok bangunan yang dapat digunakan kembali. (Sumber:zerowaste.id). Ecobrick ini nantinya bisa menjadi bahan untuk membuat furnitur modular, perabotan indoor, ruang kebun, ruang hijau, dinding struktur dan bangunan seperti sekolah dan rumah. Wah keren kan.. 
sumber : www.dispatchlive.co.za

Cara membuatnya sangat gampang.
  1. Sediakan sampah non organik dan non biologi seperti styrofoam, kantong plastik, bungkus makanan, gelas plastik, kertas kaca, dll. Pastikan semua sampah dalam keadaan bersih dan kering ya.
  2. Pilih botol plastik yang akan diisi sampah.
  3. Sediakan tongkat kayu untuk memadatkan isi botol.
Agar ecobrick lebih berwarna kita bisa mengkondisikan warna dasarnya sesuai keinginan.

Bikin ecobrick ini sangat seru dan menyenangkan ketika dikenalkan kepada anak-anak. Selain mengajarkan mereka untuk bijak mengelola sampah sendiri, kita juga tahu ternyata oh ternyata jajan mereka banyak sekali. Tapi mereka malah senang kalau ecobricknya cepat penuh, yang jadinya malah cari-cari sampah plastik kemana-mana. Hadew..

digunting dulu biar padat

this is my ecobrick

Agar ecobricknya padat dan berat usahakan jangan ada ruang didalam botol. Bisa diatasi dengan menggunting sampah-sampah plastik tersebut menjadi potongan-potongan kecil terlebih dahulu. Nah bisa jadi ide buat montesori dirumah juga kan. Sembari bersih-bersih, bisa nabung ecobrick buat bikin rumah eh. 

Setelah penuh dan padat ecobrick ini nanti akan cukup berat, untuk ukuran botol 500ml beratnya bisa sekitar 180 gram. Lumayanlah untuk ganti barbel. Penggunaanya kurang lebih sama dengan batu bata ,dikumpulkan untuk kemudian dibuat meja, kursi atau bangku taman. Tentunya ukuran botolnya harus sama. Kita juga bisa bergabung dengan komunitas GoBrik. Nanti Ecobrick bisa dikumpulkan di tempat terdekat dan dimanfaatkan bersama. Selengkapnya lihat di Ecobricks.org

Ocean Ecobrick

Selain ecobrick kita juga bisa membuat ocean ecobrick yang mana lebih dikhususkan untuk sampah plastik yang basah. Biasanya sampah seperti ini sering ditemui di tepi pantai, sungai dan lautan karena kondisinya yang cenderung basah dan susah untuk dibersihkan. 



Cara membuatnya :
  1. Sediakan dua botol plastik yang akan diisi sampah plastik. 
  2. Potong botol menjadi dua bagian (buang bagian atas botol)
  3. Isi bagian bawah dengan plastik berwarna perak.
  4. Masukan sampah-sampah plastik sambil dipadatkan dengan tongkat. Begitu juga dengan bagian potongan botol yang satunya lagi.
  5. Satukan botol sembari diputar dan dipadatkan
Jika ecobrick cocok untuk membuat furniture rumah, ocean ecobrick lebih cocok tepat untuk digunakan diluar rumah seperti ruang hijau, bangku taman dll.  

Banyak yang bisa kita lakukan untuk tetap memelihara bumi ini dengan baik. Tinggal pilih dibagian mana kita mengambil peran. Nggak usah mikirin, "emang ngaruh gitu sama bumi kalau aku lakuin ini"? Kalau 80 juta orang melakukan hal kecil itu pastinya akan sangat berpengaruh sekali. Mulai dari yang mudah saja, secara bertahap. Hal ini saya sampaikan sebenarnya juga untuk memotivasi diri sendiri agar lebih konsisten. Sekaligus mengajak kita semua agar lebih bijak mengurangi sampah plastik.