31 Jan 2019

Proses Membangun Rumah Secara Bertahap

planner 5d

Setelah sekian tahun tinggal bersama orang tua akhirnya saya dan suami bertekad untuk bisa punya rumah sendiri. Tinggal satu atap dengan 3 Kepala Keluarga tentu saja sudah tidak sehat untuk kami. Baik itu dari kondisi rumah maupun hubungan keluarga satu sama lain yang kadang sering bergesekan. Kadang banyak juga yang komentar “rumahnya kan besar, mubazir” tetap saja saya tidak nyaman. Rumah yang homey, yang bisa jadi tempat melepas penat setelah seharian bekerja pastinya jadi syarat penting bagi semua orang yang punya rumah.

Salah satu hal yang membuat kami memilih tinggal bersama orang tua apalagi kalau bukan masalah ekonomi. Kami belum bisa bikin rumah, dan kalau ngontrak pun rasanya kok sayang ya uangnya. Mending ditabung saja buat nanti kalau memang ada niat untuk bangun rumah. Jadi dengan segala alasan itu kami mencoba bersabar dan bersyukur saja dengan kondisi yang ada. Toh masih banyak diluar sana yang tidak punya tempat berteduh. 

Namun ternyata walau kami bisa menerima keadaan, belum tentu baik untuk anak-anak. Mereka sih asik-asik saja rame dengan sepupu-sepupu, menggelar mainan dimana-mana.  Apalagi anak saya suka sekali berbagi dengan kakak sepupunya, yah termasuk mengajak lompat-lompat dikasur kamar bersama-sama. Hadeew... Saya seperti kehilangan wilayah privasi sekaligus kehilangan arah untuk memonitoring anak-anak karena lingkungan yang serasa lebih kuat. Sedangkan saya dilemahkan oleh keadaan rumah yang membuat saya kadang bad mood.

Ketika kami bertekat untuk membangun rumah, kami sudah sepakat untuk tidak lagi menyentuh yang namanya Riba. Jadi membeli ke developer dengan sistem kredit atau beli perumnas atau apalah itu sudah kami coret dari daftar perencanaan. Ini bukan saja karena haram nya riba, tapi memang setelah pernah merasakan sendiri bagaimana punya hutang ke bank itu rasanya nggak enak banget. Kalau dihitung, bunganya aja udah bisa bikin pondasi rumah. Tapi ini pendapat saya sendiri ya, saya menghargai setiap pilihan orang yang mungkin tidak sepakat.
Setelah kami berdiskusi bagaimana cara membangun rumah dengan biaya murah dan tidak riba,  akhirnya kami memilih untuk membangun rumah secara bertahap saja alias nyicil. Kalau dulu orang-orang tua dikampung biasanya beli bata dulu, kemudian semen, pasir, nanti kalau udah cukup baru deh dipanggil tukang. Nah mungkin yang akan kami lakukan tidak persis seperti itu tapi kurang lebih sama karena sama-sama nyicil . Apa bisa???? Hmmm Let’s see....
 
nyicil batu


Mendesain Sendiri

Kami mulai mencari ide-ide desain rumah yang cocok dengan cara browsing di internet. Nggak perlu jasa arsitek, cukup pake aplikasi planner 5D aja agar lebih gampang untuk dilihatkan pada Pak Tukang. Biasanya mereka bisa menaksir kira-kira berapa biaya yang akan dihabiskan, apa-apa saja bahan yang harus dibeli dan bagaimana sistemnya borongan atau harian. Dengan perhitungan itu biasanya kita sudah bisa membayangkan biaya yang harus disiapkan. Nah tinggal mikir gimana cari duitnya..hehe

Menetapkan Sistem Kerja dan Upah Tukang

Kita bisa menetapkan apakah pekerjaan dilakukan secara harian atau borongan. Dua-duanya menurut saya ada kelebihan dan kekuranganya. Untuk sistem borongan biasanya harga upah sudah dipatok berapa lama pun waktu pengerjaan. Biasanya pembayaran bisa dibagi 3 termin atau 4 tergantung kesepakatan. Kalau budget udah tersedia sejumlah yang ditetapkan sistem ini sebenarnya bagus karena pekerjaan bisa lebih cepat.

Tapi kalau untuk sistem pekerjaan yang harian upah dipatok perhari dan biasa dibayar perminggu. Kekurangannya bisa saja tukang kerjanya malas-malas dan melambatkan pekerjaan agar upahnya tambah besar. Tapi untuk menanggulanginya kita bisa bersepakat diawal, kira-kira penyelesaiannya kapan. Kita pun bisa mengevaluasi pekerjaan, bagaimana progressnya perminggu kalau emang lambat mending ganti tukang saja. Kelebihannya dengan sistem ini kita bisa memberhentikan kerja sementara ketika budget udah menipis dan kemudian nanti bisa dipanggil lagi kalau udah terkumpul lagi.

Saya dan suami memilih tukang harian saja karena memang sesuai dengan kondisi kami yang memang tidak punya stok uang banyak. Dengan catatan tukangnya masih kenal dengan saudara dan mengerti dengan kondisi kami. Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada masalah. 

Menentukan Tahap Pembangunan

pengerjaan pondasi


Rencananya kami membagi tahapan pembangunan rumah sebagai berikut :
1. Pembuatan pondasi
2. Pembuatan dinding atau istilah dikampung saya mambatu
3. Pemasangan Atap
4. Finishing

Kami membagi setiap tahapan sedemikian rupa agar jeda yang ada tidak berpengaruh buruk terhadap konstruksi bangunan sembari kami kembali mengumpulkan uang. Untuk finishing maunya sih sampai bisa di huni aja walaupun belum total selesai. Nanti bisa di cicil lagi untuk dekorasi dan sebagainya.



Saya mah let it flow aja, toh niat kami untuk membangun rumah bukan untuk bermewah-mewahan. Biar lambat asal selamat. hehe. Karena kalau menunggu tabungan cukup, sudah pasti gak bakalan pernah cukup karena harga yang terus naik. Lebih baik setiap ada rezeki langsung dibeli bahan bangunan saja, biar jelas prosesnya.

Sementara ini pembangunan rumah ini masih on the progress. Insya Allah akan saya update di blog ini. Agar kita sama-sama tau apa mungkin punya rumah dengan biaya murah? Mudah-mudahan bermanfaat untuk pembaca.



30 Jan 2019

Welcome Back


Setelah sekian lama vakum dari dunia blog, akhirnya saya memutuskan untuk kembali. Beberapa tahun lalu sih juga gitu ngomongnya, ujung-ujungnya malah mati suri lagi. Konsisten itu emang sulit ya tapi semoga kali ini bisa dan lebih serius lagi.

Banyak hal yang membuat saya ingin kembali, salah satunya kerinduan untuk menulis banyak hal dan bertegur sapa dengan teman-teman blogger yang dulu sering blogwalking. Tidak sedikit juga ternyata dari mereka yang juga vakum bahkan berganti profesi. Tapi untuk yang tetap eksis dan makin bersinar saya angkat topi, semoga bisa belajar banyak hal dari mereka.

Kehidupan saya dengan blog sebenarnya tidak dipisahkan. Sejak 2008 mulai dari kuliah, kerja, menjadi seorang ibu saya tidak bisa jauh dari yang namanya blog, Hanya saja saya menulis ya cuma sekedar menulis saja, kebanyakan hanya untuk melepaskan unek-unek. Beberapa blog yang saya buat pun akhirnya banyak  yang disembunyikan, karena isinya yang rada-rada geje. Kalau lagi waras malu aja rasanya hehe, maklum masa-masa ababil.

Setelah mulai ngutak-ngatik blog lagi, rada-rada kagok juga sih. Jari jemari rasanya udah tidak selincah dulu lagi aisshh..Udah banyak yang lupa bagaimana mendesain tampilannya, teori-teori nulis yang bagus dan sebagainya. Semoga yang baca tidak buru-buru ilfeel dan bersedia memberi masukan yang membanguna untuk saya.


29 Jan 2019

Agar Sukses Menyusui Walau Bekerja




Bekerja diluar rumah sekaligus bisa tetap menyusui memang punya tantangan sendiri. Kita harus rela menyingkirkan tas kantor dan kemudian menggantinya dengan cooler bag yang lengkap dengan peralatan pumping. Perihal cuci dan mensterilkan peralatan pun sudah jadi rutinitas setiap hari. Belum lagi ketika tidak menemukan ruang laktasi. Siap-siap gigit jari numpang sana sini. Tapi satu hal yang patut kita syukuri saat ini pemerintah sudah memberikan perhatian dengan menerbitkan peraturan yang mendukung pemberian ASI. Tinggal usaha dan kerja keras kita agar hal tersebut bisa terlaksana dengan baik. Lalu apa saja sih yang bisa kita lakukan agar sukses menyusui walau bekerja?


Menyiapkan Pengetahuan seputar ASI.

Sebelum melahirkan ada baiknya kita mencari tahu segala hal tentang ASI. Mulai dari bagaimana memilih Rumah Sakit yang Pro Asi, bagaimana pelekatan yang benar, cara memerah ASI, manajemen ASIP, fakta dan mitos seputar ASI, serta hal lainnya yang berhubungan dengan ASI. Dengan adanya pengetahuan kita tentang ASI biasanya akan membuat kita lebih siap dan lebih matang dalam menghadapi hari-hari pertama menjadi seorang Ibu. Tidak sedikit ibu-ibu yang menyerah pada sufor dihari pertama pasca lahiran karena khawatir bayinya tidak kenyang. Padahal lambung bayi yang masih kecil sudah cukup dengan jumlah ASI yang memang masih belum banyak.


Mempersiapkan stok ASIP semasa cuti

Menyiapkan stok ASI perah bisa dimulai pada 2 atau 1 bulan sebelum cuti berakhir. Pada awal-awal pumping mungkin kita akan mendapati botol ASIP yang tidak penuh. Tapi  jangan khawatir jumlah ASI akan semakin bertambah seiring dengan meningkatnya intensitas menyusui. Berapapun hasilnya tetap saja syukuri dan disimpan. Pikiran-pikran negatif ketika melihat ASIP yang sedikit, bisa diatasi dengan menggabungkan ASIP yang jarak perahnya tidak lebih dari 24 jam dan dalam suhu yang sama. Nah tuh, ASI nya banyak kan. :-)

Melatih bayi menggunakan media ASIP.

Sebelum kembali bekerja ajari si kecil menggunakan media pemberian ASIP agar bayi tidak kaget sewaktu ditinggal kerja. Medianya bisa menggunakan sendok atau cup feeder. Usahakan jangan pakai dot, agar si kecil tidak bingung puting. Banyak yang berpendapat ketika diberi dot anaknya tetap mau menyusu, padahal bayi yang bingung puting bisa saja tetap mau menempelkan mulut pada payudara Ibu, namun pola hisapannya sudah berubah dan tidak dapat lagi mengeluarkan ASI secara optimal. Sembari si kecil beradaptasi dengan sendok atau cup feeder, biarkan si kecil juga menyesuaikan diri dengan Nenek/Ayah atau siapa saja yang nantinya akan memberikan ASIP ketika ibu bekerja. 

Menyiapkan peralatan untuk memerah ASI dikantor

Cooler Bag, botol kaca, pompa ASI dan apron menyusui (kalau perlu) harus masuk dalam list perencanaan kebutuhan kita sebelum melahirkan. Semua peralatan tersebut juga harus sering-sering dicuci dan disterilkan. Jangan lupa juga pakaian kantor harus yang busui friendly. Walau kesannya agak repot bawa peralatan satu tas ke kantor dengan segala proses pencucianya rasanya tidak berarti apa-apa ketika melihat sikecil tumbuh sehat dengan ASI kita.  

Menyediakan waktu khusus untuk memerah 

Buat jadwal pumping dikantor secara teratur, bisa satu kali 3 atau 4  jam. Usahakan menyediakan waktu 15 – 20 menit untuk pumping dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Sebelum pumping bisa dipancing dulu dengan melihat foto-foto si kecil, membayangkan wajah lucunya ketika menghampiri kita dan segala tingkah jenakanya. Selain itu bisa juga melakukan apa saja yang membuat perasaan tenang dan nyaman, bisa mendengarkan murrotal atau menikmati cemilan kesukaan sebagai booster asi. Tapi sebaiknya diskusikan dulu dengan atasan karena akan menyita jam-jam kerja di waktu-waktu tertentu.

Bergabung dengan Komunitas Menyusui.

Bergabung dengan Komunitas Menyusui akan  sangat banyak manfaatnya dalam menjalani masa-masa menyusui yang terkadang tidak selalu mulus. Akan ada saatnya permasalahan-permasalahan selama menyusui timbul yang membuat kita down, stress yang akhirnya malah bikin  ASI jadi seret. Oleh karena itu ibu menyusui butuh dampingan dan motivasi selalu terutama dari orang-orang terdekat. Dengan bergabung dengan komunitas kita akan lebih punya banyak teman yang bisa saling bertukar pengalaman, berbagi ilmu satu sama lain dan saling menguatkan. Komunitas menjadi wadah Ibu Menyusui untuk curhat segala hal mulai dari tentang Asi, Mpasi dan tumbuh kembang si kecil.

 Bahagia, berdoa dan yakin.

Sebagian orang menganggap menyusui adalah sebuah proses alami yang bisa dengan mudah terjadi begitu saja. Namun sebenarnya rata-rata setiap ibu menyusui pasti pernah mengalami masalah-masalah dalam menyusui. Wajar sih, karena hadiahnya pahala kalau gampang mungkin cuma dapat kipas angin hehe. Oleh karena itu, buat ibu-ibu menyusui khususnya yang bekerja diluar rumah, dengan segala kemudahan yang ada tinggal menikmati saja masa-masa pumping yang penuh cinta. Berdoa dan yakin kalau kita pasti bisa tetap menyusui, sebagai penebus waktu kita yang hilang untuk berada disamping mereka. Dengan demikian kita akan tetap bahagia, mood terjaga dan ASI tetap cukup untuk sikecil.

Semangat mengASIhi untuk semua Pejuang ASI.