20 Sep 2015

Rindu Langit Biru

sumber : nasional.kompas.com

Awan-awan mengumpal gelap. Langit mendung tanpa hujan. Merapi dan Singgalang yang biasa bergandeng mesra seperti lenyap entah kemana. Deretan bukit barisan tak lagi tertangkap mata. Tumbuhan dihalaman seperti berjuang melawan maut, kasih sayang sang matahari tak sempurna tercurah pada tubuhnya yang mulai lunglai. Sementara udara segar tetap keluar dari raganya yang lapar. Alam seperti tertimpa tinta abu-abu, kehilangan warna, kusam tak bercorak, muram dan kering.

Hujan seolah enggan turun memadamkan api keserakahan, yang tak kunjung mati. Angin terus bertiup kencang, menghantar pesan kemurkaan. Seperti alunan melodi lagu kematian, hitam nan mencekam.

Langit biru entah dimana kini, telah lama tak bertemu dirinya yang biasa terhampar. Bak samudera mengawang, lepas bebas tanpa batas. Keangkuhan telah memisahkannya dengan bumi. Apa daya kepulan asap jualah yang menang. Mengangkasa, menguasai paru-paru setiap manusia. Menginjak kenikmatan hidup demi gemerincing di saku mereka.

Agam, 190915

###########

Saya memang tidak tinggal di Riau, tapi asap lumayan pekat dan sudah masuk kerumah. Saya bisa membayangkan bagaimana sesaknya masyarakat Riau saat ini. Bagaimana terancamnya kesehatan mereka dengan kepulan asap yang tiada henti.


Disaat seperti ini saya seperti tersadarkan, betapa kurangnya bersyukur ketika oksigen masih nyaman dihirup. Betapa kurangnya bersyukur ketika masih bisa melihat langit biru setiap hari. Betapa kurangnya bersyukur ketika masih bisa mengajak anak saya main diluar tanpa perlu khawatir asap menganggu kesehatannya. Betapa kurangnya bersyukur akan nikmat-nikmat yang tidak kita sadari namun berpengaruh besar bagi hidup kita.

Sama seperti kurang bersyukurnya kita ketika dianugerahkan hutan yang luas, yang cukup banyak menyumbang untuk paru-paru dunia. Namun saat ini hutan itu malah dihanguskan secara perlahan. Menyelamatkan hutan berarti menyelamatkan udara yang akan dihirup anak cucu kita kelak. Semoga saja belum terlambat dan semoga masih  ada waktu untuk memperbaiki semua.

Q.s Al-a'raf ayat 56
“Dan janganlah kamu membuat kerusakandi muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya danberdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

#savehutanindonesia
#Melawanasap
#Bloggermuslimah
#Gerakanmenujusholehah

19 komentar:

  1. Ya Allah, semoga masalah ini cepat terselesaikan

    BalasHapus
  2. Ikut merasa sesak ... mudah-mudahan anak cucu kita bisa menjadi muslim yang memberi dampak selamat bagi lingkungan. Aamiin.

    BalasHapus
  3. Semoga segera ada solusinya, jadi tahun berikutnya udah nggak ada asap lagi di langit Riau. :(

    BalasHapus
  4. semoga cepat selesai yaa masalah nyaa :)

    BalasHapus
  5. Semoga langit segera menyingkap rahasia dibalik kode yg dinyanyikan oleh alam yaa mbak izzawaku..

    BalasHapus
  6. Satu pelajaran berharga ketika musibah ya, Mbak.
    Agar kita bersyukur kapan saja, baik saat lapang.
    Mudah2an kabut asap segera sirna, sehingga langit biru kembali dan udara bersih lagi

    BalasHapus
  7. aku saja kena asap polusi udah ngomel ngomel mba, batuk batuk.. apalagi asap rokok, asap kompor.. aku gak suka asap! aku merasakan apa yang dirasakan oleh orang orang yang sekrang terkena asap di kotanya. semoga tidak ada lagi asap asap bertebaran di negeri ini. semoga pemerintah TEGAS menangkap pelakunya dan solusi nya. AMin

    BalasHapus
  8. Setiap tahun masalah Asap gak pernah selesai di bumi khatulistiwa... hem.. sedih rasanya... :(

    BalasHapus
  9. Suka dg paragraf deskriftif naratifnya.... *smg bencana kabut asap ini cepat berlalu...

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. semoga langit riau segera kembali biru #PrayForRiau

    BalasHapus
  12. Aku mengamati dari tv ikutan sedih

    BalasHapus
  13. semoga kabut asap cepet ilang ya :)

    BalasHapus
  14. Semoga kabut asap cepat hilang, hujan cepat datang, dan langit biru kembali terlihat.

    Terima kasih sudah ikutan BW

    BalasHapus
  15. gak ngebayangin kalau aku yang ada di situ :(

    BalasHapus
  16. Semoga hujan terus turun dan menyapu semua kabut asap yang ada. Sungguh ini musibah yang diakibatkan kelalaian manusia. Semoga Allah mengampuni bangsa yang semakin kehilangan rasa nasionalis ini :-(

    BalasHapus