30 Sep 2015

Piknik Bersama Nasi Bungkus Daun Pisang

Sudah beberapa hari ini pikiran saya selalu tertuju pada sebuah album yang sampulnya kusam dan agak berdebu. Penampakannya tidak lagi menarik, apalagi ada beberapa foto yang copot, tidak lagi menempel pada tempatnya. Namun sama sekali tidak mengurungkan niat saya untuk membuka lembaran demi lembarannya. Ada yang membuat saya sangat antusias ketika menikmati setiap lembar foto didalamnya. Keluarga, tikar, rumput hijau, yah saya tertarik dengan kolaborasi indah itu yang kemudian mengingatkan saya pada beberapa tahun yang lalu. Ketika anggota keluarga kami masih lengkap, ketika Bapak belum bangkrut, ketika Piknik bersama jadi jadwal wajib setiap bulan.
Kenangan Piknik Bersama Keluarga Besar
Ya..foto diatas diambil belasan tahun yang lalu ketika kami sekeluarga berpiknik ria keluar kota. Bapak tidaklah seorang pekerja kantoran yang perlu quality time bersama keluarga setiap weekend. Tapi dulu beliau cukup sering mengajak kami jalan-jalan untuk sekedar refreshing. Aha Mungkin Bapak tidak mau dibilang kurang piknik karena terlalu sibuk mengurus dagangannya saja setiap hari. Belum lagi dipusingkan dengan masalah hutang piutang yang bikin dahi mengkerut. Alhasil piknik atau yang sering kami namakan dengan jalan-jalan menjadi pilihan yang tepat untuk menyegarkan pikiran. Disamping juga menambah keakraban dalam keluarga tentunya.

Saya masih ingat dulu setiap Bapak mengajak kami jalan-jalan, malamnya kami menyiapkan segala perlengkapan yang akan dibawa esok hari. Tidak lupa kami mengambil daun pisang untuk kemudian dilayukan dengan memanaskannya diatas kompor. Setiap bepergian kami memang tidak pernah makan di restauran atau rumah makan seperti saat sekarang ini. Wanginya nasi yang dibungkus dengan daun pisang adalah jawabannya. Masakan mama yang jempolan sudah pasti bikin susah kelain hati, tapi cerita nasi bungkus dengan daun pisang lain lagi.

Selalu ada sensasi ketika menikmati nasi yang dibungkus dengan daun pisang, padahal terkadang lauknya hanya ikan asin atau telur rebus yang kemudian digoreng sebentar. Tapi ketika menikmatinya bersama-sama diatas tikar yang terhampar diatas rumput hijau, plus pemandangan yang menyejukkan mata rasanya benar-benar juara. Nasi bungkus daun pisang dan piknik menjadi dua hal yang tidak terpisahkan bagi kami.

Soal tempat juga tidak mesti yang harus mengeluarkan banyak uang. Bapak lebih suka mengajak kami melihat keindahan alam. Hampir setiap bepergian kami lebih sering mengunjungi Pantai dan Danau. Nampaknya Bapak ingin mengajarkan kepada kami bahwa dengan memandang alam yang begitu indah, akan menimbulkan rasa syukur yang berujug dengan ketentraman pikiran dan jiwa kita.  Memang melihat laut lepas, langit biru dan keindahan panaroma alam terbukti sanggup meredakan lelah yang mendera pikiran. Apalagi menikmatinya sambil duduk santai ditikar yang kami gelar diatas rumput. Tiupan angin sepoi-sepoi seperti terapi yang menerbangkan beribu masalah, pijatan lembutnya menyentuh wajah mengukir senyum bahagia dibibir kami. Perut keroncongan pun termanjakan dengan makanan sederhana namun super nikmat. Sungguh bagi kami semua itu kenikmatan yang sangat mahal yang bisa kami dapati secara cuma-cuma.


 
kenangan piknik bersama Almh. Mama

Seiring berjalannya waktu kebiasaan itu pun melekat dalam diri saya. "Candu Raun" begitu orang-orang didaerah saya memberi istilah pada orang yang hobi sekali jalan-jalan. Meskipun tidak lagi menjadi kebiasaan dikeluarga kami saya masih sering bepergian untuk sekedar melepas penat dengan keluarga kecil saya. Walaupun itu hanya sekedar berkeliling di taman kota, hitung-hitung menemani sikecil yang baru belajar jalan. Aktifitas saya sebagai pegawai sekaligus ibu rumah tangga, terkadang memang rentan stress. Tidak jarang saya merasa terkurung rutinitas yang membosankan, kalau sudah begitu piknik adalah obat yang tepat untuk membuat pikiran saya segar kembali. Selain juga menciptakan waktu yang berkualitas dengan anak saya

Namun demikian tetap saja suasana piknik yang pernah saya rasakan dulu bersama keluarga mendapat tempat tersendiri dihati. Apalagi saat ini  tradisi membawa nasi dengan daun pisang agaknya tidak lagi menjadi kebiasaan. Makan di cafe atau restoran menjadi lebih menarik dengan alasan lebih praktis, selain itu menunya pun beragam. Walaupun alasan malas masak sebenarnya lebih dominan dari pada soal makan enaknya hehe.

Sekiranya suatu saat saya berkesempatan liburan di Bogor, ingin sekali rasanya mengunjungi Puncak Bogor yang sejuk dan menenangkan. Saya akan mengajak Bapak serta keluarga besar saya untuk mengulang kembali cerita lama kami. Menggelar tikar, memandang hijaunya hamparan perkebunan teh, dan tidak lupa sambil menikmati nasi bungkus daun pisang kesukaan kami.

Tulisan ini diikutsertakan dalam “Lomba Blog Piknik itu Penting”

22 komentar:

  1. Wah masih ada fotonya. Enak banget makan nasi bungkus daun pisang. Apalagi bareng ibu. Yummy.

    BalasHapus
  2. Kok sama ya? Dulu kalo piknik bareng orangtua ga pernah bawa bekal tapi beli nasi bungkus dan dimakan ditaman

    BalasHapus
  3. Emang lezat makan di atas daun pisang...smg menang mbak :)

    BalasHapus
  4. Nasi jadi sedap kalo dibungkus daun pisang ya mbak, malah laper karena membayangkannya :)

    BalasHapus
  5. dengan daun pisang kita bisa piknik dengan nasi timbel, keluarga saya sering melakukan itu ketika piknik di kebun teh, bawa nasi timbel aja kata keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. apalagi di kebun teh pasti makin lahap makannya ya mba

      Hapus
  6. masih ada fotonya, daun pisang memang tempat yang paling mudah dan ramah lingkungan ya..untuk nasi dibungkus daun pisang aja udah enak, kalau sudah tidak terpakai...menjadi limbah ramah lingkungan

    BalasHapus
  7. kalau sekarang kenapa banyakan pakai bungkus kertas plastik ya...

    BalasHapus
  8. ngeliyat potonya .. masya Allah, menikmaaattti banget. Nasi bungkus daun pisang, ikan asin, sambel, lalapan ... maaaf yeee gak sempat lagi balas komen, wa, fb, dll ... saking asyiknyaaa.

    kapan ya saya diajakin ... hehe, salam kenal mbak, tulisannya sgt menarik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal kembali mba...hehe iya mba,,,kalau dibungkus gitu jadi lahao makannya

      Hapus
  9. Waah syahdu yaa tulisannya kk izzawa ...,ada sesuatu yg tersirat tp tak bisa muty ungkapkan. Hehe muty lebay ah

    Membuka kenangan lama itu kadang mengalirkan kebeningan hati...ya kak

    About nasi di daun pisang adalah sesuatu yg dirindukan dan mencipta keharmonisan.. aaah rasaanyaa ingiiiinn.... mmn ngk jadii :-D

    BalasHapus
  10. walaupun sudah tidak menjadi kebiasaan keluarga lagi, tapi tetap bersyukur pernah mengalaminya ya mbak. jadi kenangan termanis. saya juga suka jalan-jalan karena kenangan masa kecil yang sering diajak bepergian bersama alm. ayah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar banget mba....skrg jadi kangen suasana seperti itu

      Hapus
  11. Kadang-kadang piknik itu bukan tentang kemana, harganya atau apa.. Tapi kesederhanaan dan kebersamaan yang hadir bersama ketika piknik :)))))

    BalasHapus
  12. Candubraun istilahndari mana kah

    BalasHapus
  13. Candubraun istilahndari mana kah

    BalasHapus
  14. Pasti kangen ya piknik rame-rame dengan keluarga besar lagi

    BalasHapus
  15. Ceritanya seru. Terimakasih sudah berpartisipasi dalam lomba. Maaf, pengumuman ditunda tgl 20 Oktober 2015. Goodluck.

    BalasHapus
  16. Hmm... sedapnya makan nasi aroma daun pisang ;)

    sama kayak keluarga saya Mba, kalo kemana-mana bawa bekal biar hemat dan teteap sehat makan makanan ibu :)

    BalasHapus