26 Apr 2019

Bertemu Domba Di Bukit Kelinci


Setelah sekian lama maju mundur untuk update blog, akhirnya kali ini saya harus mencoba meluangkan waktu untuk menulis sejenak. Selain karena memang ada yang mau ditulis, hitung-hitung refresh dari huru hara pasca pemilu yang bikin puyeng.

Awal bulan yang lalu kita sekeluarga berkesempatan atau lebih tepatnya menyempatkan diri untuk membawa anak-anak main. Selain memang sudah lama tidak ngajak mereka jalan-jalan karena keuangan yang amburadul pasca bikin rumah, kami juga tidak mau menyia-nyiakan awal bulan yang penuh berkah. Banyak sekali sebenarnya yang mau dikunjungi karena memang akhir-akhir ini banyak tempat-tempat wisata baru yang lagi booming di Sumatera Barat. Tapi karena mikirnya bawa anak-anak yang pastinya repot, akhirnya kami memilih untuk mengunjungi Wisata Bukit Kelinci saja. Selain dekat dari rumah, rutenya juga nggak susah. Lokasinya persis ditepi jalan lintas Sumatera Barat, Bukittinggi-Payakumbuh.

Pertama kali akan mengunjungi tempat ini awalnya saya agak ragu. Karena dari namanya "Bukit Kelinci", didalam fikiran saya cuma kayak kebun binatang yang banyak kelincinya. Ternyata salah euy. Di bukit ini ternyata tidak cuma ada pertenakan kelinci, tapi juga ada domba dan juga area Family Camp Syariah. Pantesan diatas bukit areanya sangat luas dan ada beberapa keluarga yang juga yang bawa kemah. Asik juga ya..

Digerbang masuk kita akan diajak untuk berolahraga sejenak dengan menelusuri jalanan menanjak menuju atas bukit. Di papan tertulis namanya "jalan perjuangan", ya lumayan bikin ngos-ngosan apalagi gendong batita yang beratnya 10 kilo lebih. Benar-benar butuh perjuangan untuk sampai diatas. Tapi untung saja bukan saya yang gendong hehe. Karena banyak spot yang instagramable sepanjang mendaki saya jadi sibuk sendiri mengabadikan pemandangan yang sayang untuk dilewatkan.

Jalan Perjuangan

Jalan Menuju atas Bukit

Sesampai diatas kita nggak bakalan langsung ketemu kelinci. Mesti jalan dulu sambil menyusuri jalan yang dipenuhi oleh rerumputan dan spot-spot untuk berswafoto. Disepanjang jalan juga banyak saung-saung beratapkan rumbia yang disediakan untuk bersantai-santai dengan keluarga. Satu hal yang bikin saya excited disini kawasannya sangat bersih. Hampir tidak ada sampah saya temukan disepanjang jalan. Tempat sampah juga banyak tersedia dibeberapa titik.

menuju taman kelinci

spot-spot foto yang menarik

tempat berteduh


Bermain dengan Kelinci

Kelinci-kelinci yang ada dibukit ini ditempatkan disebuah area yang dibatasi oleh pagar-pagar kecil. Disana kelinci dilepas begitu saja dibiarkan bebas berkeliaran. Tempatnya dibentuk sedemikian rupa, ada rumah-rumahan, lubang-lubang untuk kelinci sembunyi dan juga kolam. Tapi setelah dihitung nggak berapa sih kelinci yang dilepas. Mungkin ada sekitar 10-15  kelinci. Untuk bisa bermain dengan kelinci kita bisa memancing mereka dengan memberikan makanan yang sudah dijual disana. Nggak mahal kok, cuma Rp. 5.000 saja kita sudah dapat wortel buat kelincinya.
taman kelinci


makanan kelinci


Tidak jauh dari area kelinci ini ada tempat seperti food court, yah tapi yang jualan cuma satu warung. Karena sebelum masuk tadi ada tanda panah yang tulisannya "pasar rakyat" dalam pikiran saya, sepertinya tempat ini nanti akan banyak yang jualan. Tapi karena masih dalam proses pengembangan jadi tempatnya masih kosong. Hanya ada beberapa tempat duduk yang disediakan sembari kita bisa makan bakwan yang dijual diwarung tersebut. Disamping tempat ini kita bakalan ketemu lagi sama kelinci-kelinci bedanya kelinci ini untuk dijualbelikan. Ada juga beberapa kelinci hias yang disewakan untuk dibawa keliling atau sekedar berfoto. Hmm...



pasar rakyat


Taman Shaun The Sheep

Setelah puas bermain dengan kelinci kita bisa ke Taman shaun the sheep juga lho. Di papannya sih tertulis begitu, tapi didalam saya cuma nemu dombanya 1 kandang. Selebihnya cuma kandang kambing biasa. Tapi lumayan, anak-anak jadi tahu bagaimana wujud shaun the sheep yang asli. Bulu-bulunya mengingatkan saya sama kapas-kapas didalam kasur kapuk dulu. Disana kita bisa memberi makan domba-domba dengan makanan yang memang dijual khusus untuk makanan domba. Anak-anak saya sangat antusias memberi makan domba. Antara geli dan penasaran melihat mulut domba yang komat kamit menunggu makanan, mereka tetap mencoba menyodorkan makanan ke domba-domba itu yang wanginya lumayan aduhai hehe.



Setelah memberi makan kami tidak lupa mencuci tangan ditempat-tempat yang telah disediakan. Alhamdulillah disini banyak tersedia kran air untuk cuci tangan, jadi kita bisa mengajarkan anak-anak untuk tidak takut kotor, baik itu karena menyentuh binatang ataupun bermain di bukit ini.

Spot Instagrammable

Ditempat yang cukup luas saya melihat ada beberapa spot yang masih dibangun. Ada pekerja yang masih sibuk dengan kayu-kayu, sepertinya akan banyak spot menarik disini nantinya setelah semuanya rampung. Salah satu yang lagi dibangun adalah adalah rumah segitiga yang beratapkan rumbia. Beruntung sewaktu kami kesini ada beberapa rumah yang sudah dibangun.



Ke Bukit Kelinci tentunya belum afdhal kalau belum berfoto dengan miniatur kincir angin yang menjadi ciri khas tempat ini. Ada banyak kincir angin yang tersebar, seketika kita bisa serasa di Eropa dengan angle foto yang pas tentunya.



Bersih, Luas dan Murah

Dengan tempat yang luas, bersih dan nyaman disini juga banyak komunitas-komunitas yang mengadakan  family gathering. Fasilitasnya juga lengkap seperti mushola, toilet dan kalau mau berkemah juga asyik banget disini. Sembari santai-santai bisa menikmati pemandangan dipegunungan yang hijau dan menenangkan.

Untuk tiket masuk sangat amat terjangkau, dengan harga Rp. 10.000 kita sudah bisa menikmati semua spot yang ada dibukit kelinci. Tempat parkir yang luaspun sudah tidak perlu bayar lagi. Bersama anak-anak bisa mengajarkan mereka lebih dekat dengan alam, sekalian edukasi juga karena ada peternakan kelinci dan domba. 
 

Beberapa tips dari saya ketika mengunjungi bukit kelinci :
  • Jika cuaca cerah disini lumayan panas karena jumlah pohon yang tidak begitu banyak, sebaiknya bawa topi atau payung biar tidak kepanasan ketika menelusuri bukit ini.
  • Sebaiknya kesini bawa bekal, karena yang jualan masih dikit dan pilihannya pun tidak begitu banyak. Lebih baik lagi kalau bawa kemah dan bawa nasi bungkus bersama keluarga hehe.
  • Pastikan anak-anak terawasi dengan baik terutama ketika memberi makan binatang, pastikan setelah itu mencuci tangan ditempat yang telah disediakan.

WBK (Wisata Bukit Kelinci)
Jl. Raya Bukittinggi - Payakumbuh Km.7
Piladang

Buka : jam 08.00 wib s.d 18.00 wib
Biaya masuk : Rp.10.000





16 Mar 2019

Yang Terjadi Setelah Lama Hiatus

pixabay.com

Sejak awal tahun ini saya mulai bertekad kembali untuk aktif lagi menulis di blog. Yah kembali bertekad karena ini bukan pertama kalinya saya mengaktifkan blog setelah dibiarkan sekian lama berdebu. Ada banyak hal yang membuat saya ingin kembali menulis, salah satunya ingin punya rekam jejak yang mungkin akan bisa saya baca lagi suatu hari nanti. Disamping itu dengan ngeblog saya serasa punya wadah untuk berekspresi. Saya serasa punya hiburan ditengah kesibukan rutinitas harian yang kadang cukup melelahkan. Ibaratnya me time nya saya, ya itu nulis di blog.

Namun ternyata setelah lama hiatus susah juga menjaga semangat menulis yang kadang-kadang hilang-hilang timbul. Ada saja halangan yang menggoda saya untuk kembali tidak mengacuhkan blog ini. Keinginan memposting tulisan pun jadi maju mundur syantik. Beberapa tulisan akhirnya malah banyak terlantar didalam draft.
  • Minder
Ini semacam penyakit lama yang susah sembuhnya. Merasa kurang percaya diri melihat teman-teman yang dulu sama ngeblog udah melesat jauh. Sedangkan saya masih stuck disana. Kemampuan menulis pun masih gitu-gitu aja. Berangkat dari blog yang dulu isinya cuma curhatan aja, sekarang mau ada peningkatan dikit ternyata susah juga. Saya merasa jauh tertinggal dibelakang. Walau pada akhirnya saya selalu bisa menemukan hal untuk menyemangati diri, tetap saja kadang perasaan-perasaan seperti itu datang menggoyahkan iman.
 
  • Ide
Soal ide saya juga sering kehabisan bahan untuk menulis. Rutinitas saya yang monoton, rumah kantor rumah kantor melulu kadang membuat saya berfikir keras apa hal yang menarik yang bisa dijadikan bahan tulisan. Pergi liburan jarang apalagi travelling, hadeww jauuuuh. Weekend palingan ngurus rumah sama anak-anak. Iya saya tau kok, sebenarnya apa saja bisa jadi ide tulisan. Tergantung kreatifitas kita aja. Yah namanya juga udah lama nggak nulis, jadi pikirannya agak kaku gitu. Nah ketika ada ide, ternyata saya cuma mampu menuliskan beberapa paragraph saja. Sepertinya kelamaan hiatus bukan saja membuat kreatifitas menurun tapi juga bisa membuat saya jadi miskin kata-kata.
  • Waktu
Setelah sudah ada ide dan ada bayangan tulisan yang mau dituliskan, eee saya malah tidak punya waktu. Kesibukan dikantor, dirumah, ngurusin anak ternyata tidak menyisakan waktu untuk saya sekedar menuliskan sesuatu. Rencananya kalau anak-anak udah tidur, mau bikin satu tulisan. Tapi kenyataanya seiring anak-anak tidur saya pun juga udah ngorok duluan. Jadinya untuk menulis saya nunggu takdir aja, karena saya yakin semua akan indah pada waktunya.

Beruntung ketika semua rintangan itu mencoba mematahkan semangat, saya mengenal komunitas 1minggu1cerita yang sedikit banyak cukup membantu saya untuk tetap konsisten menulis. Apapun itu, yang penting update. Tidak ada patokan harus begini harus begitu. Saya hanya harus bisa menelurkan satu tulisan perminggu. Semua blogger dari yang udah master sampai yang newbie ada disana. Enaknya semua dipandang sama. Kasta jadi berbeda kalau udah sering bolos aja. Dengan merutinkan menulis 1minggu1cerita paling tidak perlahan-lahan saya bisa menemukan ritme yang pas untuk menghidupkan blog saya.

Sejauh ini mengkhususkan waktu untuk serius menjadi blogger mungkin saya belum bisa. Saya hanya baru sebatas menulis di blog. Ini pun saya tulis sewaktu istirahat jam kerja, sambil dilirik si Bos sambil manggut-manggut betapa rajinnya saya pas istirahat masih kerja..hihi. Tetapi dengan segala keterbatasan itu saya mencoba berbagai cara untuk tetap menulis dimana saja, kapan bisa dan apa saja

  • Menulis dimana saja
Saya sengaja menginstal aplikasi document di smartphone agar bisa langsung menuliskan ide yang tiba-tiba datang dikepala. Beruntung aplikasi ini bisa digunakan offline maupun online. Sebelum tidur, di angkot, atau dimana saja pas ada ide saya bisa langsung menuliskannya di smartphone. Jadi ketika ada waktu senggang saya tinggal nambah-nambah dan edit tulisan mentah yang sudah ada dengan laptop.

  • Menulis kapan bisa
Saya tidak membebankan diri dengan harus menulis diwaktu-waktu tertentu. Kadang karena terlalu lama hiatus ngeliat teman-teman udah pada keren, pengen juga cepat-cepat punya blog bagus seperti mereka. Dengan demikan tentunya saya harus sering-sering update tulisan, kalau bisa tiap hari. Waduh, slow down baby. Saya harus bisa mengukur bayang-bayang sendiri. Kalau bisanya 1minggu1cerita ya nggak apa-apa, kapan bisa saja. Lebih baik dari pada nge gas diawal, habis itu males lagi. Saya jadi ingat hadis nabi yang mengatakan bahwasanya Allah suka sama amalan yang dilakukan sedikit tapi berkelanjutan. Nah 1minggu1cerita pas banget nih (nyambung nggak sih?)

  • Menulis apa saja
Seperti judul blog saya, melihat, berfikir, dan kemudian tuliskan. Kemonotonan hidup bukan berarti nggak ada bahan buat tulisan. Kita bisa menuliskan apa saja yang kita lihat. Bahkan dari satu objek yang kita lihat dengan kemampuan berfikir yang telah diberikan oleh tuhan kita bisa menjadikannya satu tulisan bahkan mungkin satu buku. Dan paragraph ini saya persembahkan spesial buat diri saya sendiri yang ngakunya sering susah nyari ide hihihi

Saya juga harus kesampingkan dulu berbagai teori teknis untuk mengoptimalkan blog yang ujung-ujungnya  membuat saya jadi malas menulis. Peraturan-peraturan SEO dan segala macamnya mungkin akan saya pelajari nanti-nanti saja itupun kalau sempat dan lagi mood hehe.
  • Mengikuti Komunitas
Mengikuti komunitas sangat membantu saya yang mencoba kembali bangkit dari persembunyian. Beruntung sekali akhirnya saya menemukan komunitas yang membantu saya untuk konsisten menulis. Setelah saya mencoba menulis dimana saja, kapan bisa, dan apa saja, komunitas menjadi pengikatnya agar tetap bisa konsisten dan tetap semangat. Bergabung dengan komunitas 1minggu1cerita mengajarkan saya untuk disiplin dengan peraturan yang sudah saya sepakati sendiri. Tidak itu saja saya juga lebih mudah untuk blogwalking dengan daftar blog  teman sesama komunitas. Setelah lama hiatus untuk memulai kembali menulis tentunya kita harus banyak membaca dan banyak berkunjung ke blog teman. Selain mencari inspirasi dan ide menulis kita juga bisa menjalin pertemanan baru.

Setelah lama tidak ngeblog ada banyak hal yang harus dibiasakan kembali. Selain itu juga harus diselaraskan dengan rutinitas yang mungkin tidak sama seperti dulu lagi. Semoga bisa menemukan ritme yang tepat dan ngeblog jadi makin menyenangkan kembali.








Bukittinggi, 16 Maret 2019
dikala melarikan diri tumpukan kerjaan

1 Mar 2019

Menikmati Wajah Baru Jam Gadang



dok. pribadi

Pasca kebakaran yang meluluhlantakkan pasar atas akhir 2017 lalu membuat wajah di jantung kota bukittinggi berubah drastis. Pasar yang merupakan pusat perekonomian di Kota Bukittinggi ini tiba-tiba harus lumpuh untuk sementara waktu.  Banyak para pengunjung yang kehilangan arah menentukan destinasi berbelanja.  Para pedagang yang menjadi korban pun terpaksa harus kecewa kehilangan tempat untuk menjual dagangan mereka. Tidak sedikit yang kemudian menggelar lapak dimana-mana demi rezeki yang harus tetap mereka jemput untuk keluarga. Keluhan dan aspirasi mereka terdengar dimana-mana, berharap kabar baik akan nasib kedepannya.

Perlahan tapi pasti pemerintah setempat cukup sigap menangani agar rekonstruksi segera dilakukan. Kabarnya bangunan yang akan dibuat akan menerapkan prinsip bangunan gedung hijau yang hemat energi sehingga mengurangi emisi karbon. Konsep ini diyakini memiliki sirkulasi udara dan cahaya yang baik, sekaligus menekan risiko kebakaran lagi. Selain itu akan dilakukan juga pergeseran tapak sejauh 10 meter ke belakang untuk lebih memperluas areal pedestrian Jam Gadang. Seiring dengan pembangunan kembali pasar atas, revitalisasi pedestrian Jam Gadang sebenarnya juga dilakukan pertengahan 2018 lalu. Para pengunjung yang datang ke Bukittinggi waktu itu terpaksa harus gigit jari lagi karena selain tidak bisa belanja-belanja di pasar atas juga tidak bisa berfoto dengan clock tower saudaranya Big Ben yang ada di London Inggris ini.

Makanya beberapa tahun belakangan ini Bukittinggi jadi sedikit kurang bergairah. Apalagi ketika Jam Gadang ditutup masyarakat jadi kehilangan tempat untuk menghabiskan weekend bersama keluarga sambil menikmati langit malam ditengah kota. Atau sekedar berjalan-jalan ditaman sambil menikmati kerupuk mie kuah jualan ibu-ibu ditepi trotoar. Uda-uda fotografer jalanan yang selalu setia menawarkan foto dengan pose memegang ujung gonjong jam gadang, terpaksa harus istirahat untuk sementara waktu. Belum lagi dengan pertunjukan kesenian tradisional yang menghias pelataran Jam Gadang setiap malam minggu, mulai dari randai, saluang, silek dan kesenian lainnya harus rela berhenti sampai kemudian Jam Gadang bisa dibuka lagi dengan wajah baru. Ah,,,saya juga rinduu.

Alhamdulillah, tidak perlu menunggu lama 16 Februari lalu akhirnya Jam Gadang secara resmi dibuka lagi untuk umum. Perhelatan besar pun diadakan untuk menyambut kembali icon kota Bukittinggi ini. Saya sendiri karena tidak tinggal dikota hanya bisa menyaksikan live lewat sosmed yang mulai bertebaran video serta foto-foto kemeriahan acaranya. Masya Allah, ternyata banyak sekali yang berubah. Taman kini dilengkapi dengan lampu-lampu hias yang cantik. Pelatarannya pun lebih luas, dan yang paling menarik adalah air mancur menari yang membuat Jam Gadang kini semakin menarik untuk dikunjungi.

LEBIH LUAS

Sebagai warga Bukittinggi coret, atau lebih tepatnya Bukittinggi agak kesono dikit, saya tentunya ingin juga menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana berjalan-jalan di Taman Jam Gadang setelah direnovasi. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah luasss banget. Kalau saya bawa anak-anak mungkin mereka akan bebas berlarian kesana kemari. 
 
dok.pribadi


dok. pribadi

Walau ada beberapa pohon yang ditebang, ada sejumlah taman yang dibangun. Bunga-bunganya yang masih kecil-kecil dan belum begitu tumbuh tetap saja tidak mengurangi kecatikan dan keasriannya. Hanya saja ulah pengunjung yang kadang sengaja melewati area taman membuat bunga-bunga tersebut menjadi terganggu yang akhirnya malah meregang nyawa.
 
dok. pribadi

Disekitar pendakian menuju Jam Gadang jadi favorit pengujung disiang hari karena lebih teduh dan rimbun dengan pohon-pohon besar. Sembari di belai oleh angin mata kita juga dimanjakan oleh panorama yang berlatarkan Gunung Merapi yang tinggi menjulang.
dok pribadi
 
RAMAH DISABILITAS

Kawan pedestrian ini kini juga dilengkapi dengan jalur untuk penyandang disabilitas khususnya yang memakai kursi roda. Sejatinya karena Jam Gadang milik kita bersama sudah seharusnya teman-teman disabilitas juga bisa menikmati area ini dengan lebih leluasa. Tangga-tangga menuju jam gadang kini bukan lagi jadi penghalang untuk melihat jam gadang dari dekat bagi mereka.

LAMPU TAMAN

Setiap pengunjung yang ingin menikmati Jam Gadang kini tidak usah lagi khawatir mau duduk dimana. Dulu kalau setiap ke jam gadang saya sering tidak kebagian tempat duduk dikursi-kursi yang sudah disediakan. Akhirnya banyak pengunjung yang duduk-duduk di tangga atau dimana saja yang menurut mereka strategis untuk bisa melepas penat sejenak setelah keliling-keliling pasar atas.

dok. pribadi
Setiap tempat duduk juga dipayungi oleh lampu-lampu taman yang cantik. Hanya saja lumayan panas juga kalau mesti nongkrong disini siang hari. Beda kalau malam hari, suasananya lebih syahdu dan romantis. Apalagi ditemani alunan saluang bapak-bapak yang dulunya sering duduk menggelar tikar disana.

AIR MANCUR

Air mancur menari yang katanya pertama di Sumbar ini membuat Jam Gadang kini jadi sangat-sangat berbeda. Ini juga yang jadi daya tarik sendiri bagi para pengunjung yang datang pada malam hari. Karena hidupnya pada jam-jam tertentu banyak para pengunjung yang rela menunggu dengan sabar disekitar air mancur. Tidak terkecuali bagi saya yang memang ndeso ini. 
dok. pribadi

dok. pribadi
 
Ketika selesai sholat magrib kami sekeluarga waktu itu langsung ke pelataran jam gadang untuk menyaksikan air mancur menari. Tapi sayangnya tidak hidup, disekitaran kolam pun gelap tidak ada penerangan sama sekali. Ketika selesai azan isya, barulah air mancur itu langsung perform diiringi lagu “indang”. Lagu itu membuat rasa ke-Minang-an di diri saya membuncah hehe, seiring membuncahnya jipratan air mancur yang berliuk-liuk didepan mata. Keren.

Disamping ada air mancur menari di sisi lain area pedestrian ini juga ada air mancur bertingkat yang dilengkapi lampu warna warni. Makannya kalau malam hari Jam Gadang memang lebih rame pengunjungnya, karena banyak sekali keindahan yang bisa dinikmati.

Jam gadang bagi kami bukan hanya sekedar tempat selfi atau sekedar melepas penat diri. Ketika waktu berlalu, zaman berganti ia tetap berdiri menjulang tinggi. Sembari menatap merapi, Singgalang dan Sago sama-sama menjadi saksi. Semoga saja kita bisa menjaga perubahan yang telah dibuat untuk mempercantik Jam Gadang, dan semoga Pasar Atas bisa kembali ramai seperti dulu lagi. 

ke Bukittinggi yuk!


26 Feb 2019

Cara Mudah Memerah Asi dengan Tangan


Pengalaman jatuh bangun menyusui anak pertama memberikan saya banyak ilmu untuk lebih baik lagi ketika menyusui anak kedua. Perjuangan melepas sufor diawal-awal kehidupanya sudah saya bayar tuntas dengan menyusui sampai 2,5 tahun. Hal itu juga yang membuat saya yakin dan percaya diri bahwasanya saya akan bisa menyusui anak kedua dengan lebih mudah tanpa banyak kekhawatiran ASI saya tidak ada atau tidak cukup. Soal peralatan ASIP pun saya tidak lagi serepot dulu. Cukup bongkar alat pumping zaman si abang, cuci dan kemudian disterilkan. Hanya saja penyimpanan yang kurang baik ternyata bikin alat pompanya jadi kurang maksimal saat digunakan. Belum lagi ada bagian yang berjamur dan susah untuk dihilangkan.

Beda sama kelahiran anak pertama saya lebih mikir dua kali kalau mau beli-beli perlengkapan bayi termasuk juga perlengkapan pompa asi. Selain harganya yang lumayan mahal, perawatanya yang merepotkan Akhirnya mau tidak mau saya harus mencoba memerah dengan tangan saja, atau yang biasa dikenal dengan tekhnik marmet.

Apa Sih Teknik Marmet

Teknik marmet adalah metode memijat atau menstimulasi payudara menggunakan tangan untuk menghasilkan asi lebih optimal yang dipopulerkan oleh Chele Marmet dari Lactation Institute.

Saya pernah mencoba teknik ini sewaktu mengejar stok ASIP anak pertama dulu. Agak susah memang apalagi hanya berbekal gambar atau video dari youtube. Jadinya malah nyeri dan tidak nyaman. Ketika nanya sana-sini ada yang kasih tips dengan cara menyusui satu PD saja dan yang satu lagi untuk diperah. Hmm..cukup membantu sih, karena memerah saat PD penuh itu lebih gampang. Tapi tetap saja waktu itu pikiran saya lebih percaya kalau menggunakan alat pompa itu lebih mudah.

Disaat saya harus mulai stok ASI saat anak kedua saya mulai iseng mencoba lagi tekhnik marmet ini. Tanpa dibebani harus dapat banyak dan tanpa dikejar-kejar waktu akhirnya saya berhasil mendapatkan seperempat botol asip. Lumayan, walau jauh sekali dari ekspektasi. Saya mensiasati fikiran-fikiran negatif dengan menggabungkan asip yang sedikit tersebut. Tentunya dalam suhu yang sama. Jadinya pas lihat botol-botol penuh, saya jadi senang dan percaya bahwasanya ASI saya pasti cukup.

Hari pertama memerah asi menggunakan tangan hasilnya memang belum memuaskan. Apalagi kita belum terbiasa. Bahkan nggak sedikit juga yang bilang kalau memerah dengan tangan itu menyakitkan. Malahan menurut saya lebih sakit ketika harus menguras kantong untuk membeli alat pompa yang cukup mahal. Apalagi yang elektrik ya khan? Mengandalkan pompa manual pun menurut pengalaman saya tidak lebih baik dari memerah pake tangan. Karena tetap saja sama-sama capek. Belum lagi bunyi tuasnya yang kadang menganggu. Masalahnya untuk bisa memerah dengan tehnik marmet, kita memang perlu jam terbang tinggi sampai akhirnya dapat cara yang pas, sehingga bisa menghasikan ASIP yang banyak tanpa sakit dan tanpa membuang waktu.

Keuntungan memerah dengan tangan

Disamping tekhniknya yang gampang-gampang susah, memerah asi dengan tangan sebenarnya banyak sekali keuntungannya dibandingkan memakai alat pompa.

Hemat waktu dan uang

Memerah asi dengan tangan membuat kita bisa menghemat waktu dengan tidak perlu mencuci sterilkan peralatan. Hanya saja sebelum memerah pastikan dulu tangan dalam keadaan bersih. Kita pun tidak perlu membeli pompa yang harganya lumayan. Cukup mengandalkan kedua tangan dan kepercayaan diri kita bisa sukses memerah asi untuk sikecil

PD lebih mudah untuk dikosongkan

Memerah dengan tangan ASI bisa dikeluarkan sampai tuntas. Dengan demikian bisa memancing PD untuk menghasilkan ASI lagi. Sebagaimana prinsip ASI yang suplay on demand. Semakin sering dikosongkan, akan semakin sering diproduksi. Hasilnya ASI akan lebih banyak.

Lebih mudah memancing oksitosin

Ketika memerah asi dengan tangan, kita akan melakukan kontak langsung skin to skin.  Berbeda dengan menggunakan alat, PD akan berinteraksi dengan corong alat pompa. Dengan adanya kontak skin to skin ini akan lebih mempermudah teransangnya hormon oksitosin. Tentunya kita dalam keadaan relax dan tidak tergesa-gesa.

Nah, banyak yang nggak tau bagaimana cara memerah dengan tehnik marmet ini. Sebenarnya kalau googling banyak sekali video dan gambar yang bisa dijadikan pedoman. Tapi saya tidak akan menjabarkan secara teori. Hanya berdasarkan pengalaman bagaimana tips memerah asi dengan tangan bisa menghasilkan asi yang banyak dalam waktu yang singkat.

Cara Mudah Memerah Asi dengan Tangan  

Relaks dan santai

Bagi saya ini adalah faktor paling penting dalam memerah asi bagaimanapun tekhniknya. Ketika sudah diruang pumping biasanya saya sambil nonton youtube atau apa saja yang bisa bikin senang. Bisa juga dengan melihat video-video sikecil yang bikin kangen dan menggemaskan. Biasanya kalau udah gitu, akan ada sinyal LDR (Let Dow Reflex) dari PD nah ini saat yang paling tepat untuk memerah sampai LDR nya hilang. Kalau dalam bahasa saya LDR itu ketika PD berdenyut dan tiba-tiba memenuh seperti akan memuntahkan isinya. Hehe.

LDR ini akan sulit terasa kalau kita dalam keadaan gelisah, tidak nyaman dan tidak santai. Jadi kuncinya pikiran memang harus tenang. Singkirkan dulu sejenak segala hal-hal yang bikin proses memerah menjadi terkendala. 

Memerah PD bergantian.
Setiap kali mulai susah memerah atau dengan kata lain ASI nya tidak lagi muncrat-muncrat, saya akan pindah ke PD yang lain. Ketika juga sudah mulai kosong saya akan berhenti sejenak dan kembali menunggu LDR di PD tersebut. Begitu seterunya sampai volume botol yang saya inginkan terpenuhi. 

Memancing LDR
Banyak cara untuk memancing LDR. Bisa dengan memandang video atau foto sikecil seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Selain itu juga bisa dengan terus melakukan kontak skin to skin tangan dengan PD. Lakukan pijatan-pijatan kecil di semua area PD. Biasanya semakin sering kita memerah asi dengan tangan, kita akan mendapatkan cara yang pas bagaimana memancing LDR.

Setelah hampir setahun menyusui saya merasa masa ini adalah masa menyusui paling menyenangkan. Apalagi setelah saya mendapatkan cara yang pas memerah asi dengan tangan. Semoga ibu-ibu yang lain juga bisa merasakan apa yang saya rasakan, karena ternyata memerah dengan tangan itu lebih mudah, praktis dan hemat waktu.

semangat menyusui.

21 Feb 2019

Saya Bekerja dan Saya Harus Bahagia



Menyeimbangkan antara karir dan rumah tangga bukanlah hal yang mudah bagi sebagian orang. Ada saja permasalahan yang mengakibatkan salah satu sisi terabaikan. Bukan..bukan untuk menjudge profesi seorang ibu yang memilih bekerja. Anggap segala keributan itu sudah kita khatamkan disosmed. Karena pada dasarnya seorang ibu tetaplah IBU yang selalu berusaha memberikan yang terbaik buat anak-anaknya, apapun profesinya.

Saya sendiri sampai saat ini belum menemukan ritme yang pas agar keduanya bisa berjalan dengan cukup baik. Entah saya yang tidak berbakat dalam manajemen waktu atau memang waktu yang tidak mau bersahabat dengan saya. Karena memang 24 jam seperti nya kurang untuk mengurus keduanya. Apalagi sebagai pegawai pengabdi pada mesin fingerprint negara, saya harus bisa mengatur sedemikian rupa agar berbagai drama dipagi hari tidak mengancam tunjangan kinerja. Sayang banget kan harus kehilangan 20ribuan, lumayan buat beli kinderjoy untuk anak-anak.

Berbagai percobaan dengan segala strategi sebenarnya sudah beberapa kali saya coba. Seperti memulai bangun jam 4 lalu masak mpasi sikecil, masak untuk keluarga, mandiin anak-anak, mondar-mandir tau-tau udah jam 7. Akhirnya banyak hal yang kadang harus di skip, seperti nggak sempat sarapan atau juga nggak mandi ehm (cuma beberapa kali kok). Atau saya juga pernah mencoba mengerjakan semuanya di malam hari dengan segala to do list untuk menyiapkan segala keperluan dipagi hari. Lumayan sih, cuma saya harus menunggu anak-anak tidur dulu baru bisa bekerja. Nasib baik kalau mereka tidurnya cepat. Kalau jam 10 atau jam 11 rasanya stok tenaga juga udah mulai menipis. Pengennya udah di tempat tidur sambil mencerahkan wajah dengan serum layar hp dan kemudian tidur.

Hal yang cukup menjadi polemik memang soal memasak. Sering kali saya harus pasrah sama rumah makan, abang-abang pedagang kaki lima dan juga telur ceplok untuk solusi makan malam kami. Bukan soal tidak pandai ataupun malas. Bahkan pedagang ikan yang sering mampir didepan kantor sudah hafal kalau setiap senin dan kamis saya pasti beli ikannya. Dengan harapan bisa menyiapkan makan malam yang sehat untuk anak-anak. Tapi terkadang kenyataanya ikan-ikan itu lebih senang nongkrong lama di freezer dibandingkan berkorban untuk kami masak. hiks

Bak superhero jadul saya harus sering berganti-ganti kostum dalam waktu singkat dengan sekali teriakan “BERUBAHHHH”. Tanpa ba bi bu ketika disambut oleh anak-anak sampai dirumah, saya harus langsung bisa menjadi ibu yang baik buat mereka. Tidak ada cerita duduk-duduk, nyantai dulu atau leyeh-leyeh dulu. Kalau bisa sembari menanyakan kegiatan mereka seharian tangan-tangan saya harus cekatan memasukan baju-baju kotor ke mesin cuci.

Stress? Kadang sih. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari University of Manchester dan University of Essex menyatakan bahwa ibu yang bekerja seharian dan memiliki dua anak memang memiliki tingkat stres kronis 40% lebih tinggi pada wanita yang bekerja penuh waktu dengan tanpa anak-anak. Sedangkan yang memiliki satu anak hanya 18% lebih tinggi. Stress kronik ini bisa menyebabkan beberapa gangguan fisik, seperti mudah marah, cemas, depresi, sakit kepala, dan susah tidur.

Tapi dengan segala rutinitas yang bejibun itu apa iya kita harus pasrah membiarkan jiwa ini dirasuki yang namanya "Stress"? Sensitif dan Emosi yang tidak stabil, ujung-ujungnya malah berimbas sama anak-anak. Kasihan sekali mereka yang harus kehilangan waktu dengan ibunya, pas bertemu pun harus menerima kejutekan ibunya. Lebih kasihan lagi ibunya, udah kerja dikantor seharian plus kerja dirumah habis itu stress pula dengan keadaan. Nope! tarik nafas dalam-dalam, semua akan baik-baik saja (menghibur diri)

Sederhanakan Standar sesuai dengan Keadaan 

Walaupun sebagai seorang perempuan yang punya jurus multitasking saya tidak mungkin jadi wonderwoman ataupun superwoman. Saya harus berdamai dengan situasi agar tetap waras dan bahagia. Idealisme tentang pengasuhan dan rumah tangga mesti sedikit saya kesampingkan demi kesehatan jiwa dan pikiran. Karena anak-anak tentunya lebih memilih kehadiran saya disamping mereka dari pada segala hal yang saya persiapkan untuk mereka. Saya harus menekan sedikit harapan-harapan yang memang sulit karena keadaan. Nggak sempat masak, tidak apa-apa kan masih ada yang jualan makanan. Nggak sempat nyuci, nggak apa-apa masih ada loundry atau ditumpuk dulu juga nggak apa-apa lebih hemat listrik. Rumah berantakan, nggak apa-apa tanda orang dirumah masih sehat-sehat dan aktif semua. Segala pemakluman itu sangat membantu saya agar segala kelelahan itu tidak sampai mempengaruhi emosi saya menghadapi anak-anak.

Menjadi ibu yang sempurnya tentunya tidak mungkin, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Yang terpenting adalah berusaha walaupun akhirnya mungkin tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Seperti ketika hanya sempat membuatkan telur ceplok buat anak saya, saya berdoa semoga walau hanya dengan telur ia bisa tumbuh sehat, sholeh dan jadi anak yang membanggakan. Hal kecil memang, tapi setidaknya dengan waktu yang sudah saya usahakan dan kemudian hanya bisa membuatkan telur ceplok, setidaknya sebuah doa menjadi jurus pamungkas saya untuk menyempurnakannya.

Berbagi Tugas dengan Suami.

Melihat rumah berantakan pastinya bikin nggak enak semua anggota keluarga. Jika memungkinkan saya akan mencoba membereskan. Tapi kalau memang tidak, serahkan saja pada suami takdir. Dengan bahasa-bahasa penuh makna sampaikan pada suami agar bisa membantu. Yah namanya suami kadang mau kadang nggak, ya nggak bisa dipaksa juga. Mulailah berfikir bahwasanya rumah yang berantakan adalah rumah yang orang-orang didalamnya hidup dan tumbuh. Sedikit berimajinasi mungkin akan membantu, dengan membayangkan bahwasanya baju-baju tergantung adalah tirai-tirai eksotis yang menjadi ornamen-ornamen indah dikamar. Imajinasikan mainan-mainan yang berserakan adalah taburan-taburan kelopak bunga mawar. Akan ada masanya semuanya rapi dan bersih. Sabar saja yang penting saya harus sediakan stok tenaga untuk bercengkrama dan bermain dengan anak-anak walaupun hanya pengantar tidur mereka saja. Jangan sampai dengan segala kelelahan malah menyisakan emosi-emosi tidak terkontrol untuk mereka.

Quality Time

Hal yang paling pahit untuk diterima memang soal waktu yang hilang bersama mereka. Kalau dihitung dari pulang kerja sampai mereka tidur mungkin saya hanya punya waktu kurang lebih 3 atau 4 jam bersama mereka. Hal ini yang membuat terkadang teori parenting tidak efektif ketika saya terapkan. Jadinya saya membuat teori sendiri saja hehe, walaupun tujuannya tetap sama yaitu bisa meningkatkan bonding diantara kami. Saya berusaha dalam waktu yang sedikit itu bisa memberikan hal-hal yang baik-baik saja. Mendampingi membaca buku, bermain, atau apa saja yang bisa menyenangkan mereka. Walau kadang saya akui tidak jarang mereka juga rewel dan bertingkah yang sangat amat menguji iman. Saya harus belajar mengendalikan diri, bersabar dan memeluk mereka sesering mungkin. Agar mereka paham dan mengerti walau saya sering tidak bersama mereka, setidaknya mereka tahu dan merasakan bahwasanya saya sangat menyayangi mereka. Dengan itu semoga mereka tidak banyak ulah ketika saya pulang hehe.

Bersyukur

Bagaimanapun kondisi saat ini satu hal yang harus saya lakukan tentunya bersyukur. Bersyukur akan membuat kita bahagia. Dengan semua rasa lelah yang kadang datang pastikan semuanya ikhlas agar bisa jadi pahala juga. Rugi kan kalau udah capek, menggerutu cuma dapat tetesan keringat doank. Refresh kembali niat, panjatkan lagi doa-doa bahwasanya dengan segala ketidaksempurnaan kita semoga Allah lengkapkan dengan rahmatNya. Semangatttt..!

Seketika saya teringat percakapan dengan driver ojol dipagi itu : 

“bu...maaf ya bu...ibu ada masalah ya?, wajah ibu kurang berseri gitu, seperti banyak masalah. Maaf ya bu bukannnya gimana?”
saya :
“Hmmmmmmm...gitu ya”
ah sudahlah....